17709251003
S2
Pendidikan Matematika A 2017
Pada
hari itu, Jum’at (24 November 2017) saya bersama teman-teman kelas A Pendidikan
Matematika 2017 Pasca Sarjana UNY menonton sebuah pertunjukan wayang di Museum
Sonobudoyo Yogyakarta dengan niat untuk menemukan nilai etik dan estetika dalam
pertunjukan wayang. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa wayang merupakan
salah satu karya
seni dan budaya Indonesia yang adi luhung dan wajib dijaga. Dan hari itu
merupakan pengalaman pertama saya dalam melihat pertunjukan wayang, tentu saya
sangat excited sekali.
Dari yang saya ketahui, cerita yang
ditampilkan dalam pertunjukan wayang pada hari itu berjudul “The Death of
Rahwana (Kematian Rahwana)”. Cerita ini bersetting
pada Alengka Kingdom dan diawali dengan Rahwana yang terkejut dengan berita
kematian Kumbakarna. Melihat ini Indrajit menemui Rahwana untuk menceritakan kepada
Rahwana bahwa dia dan kedua saudara laki-lakinya yakni Tisirah dan Trinita akan
balas dendam kepada Rama. Begitu Indrajit sampai ke medan perang, Laksamana
menemuinya. Dalam peperangan, Laksamana berhasil membunuuh Indrajit dan
memotong kepalanya. Meski memiliki kekuatan yang besar, Rahwana tidak dapat
melawan Rama. Dia dibunuh oleh Rama yang memenggal kepalanya dengan Gwawijaya
senjata mematikannya. Dengan kematian Rahwana, dunia dibebaskan dari kekuatan
jahat.
Pertunjukan wayang bukan hanya sekedar
tontonan, tetapi juga tuntunan. Banyak orang, terutama bangsa Barat menganggap pertunjukan
wayang kulit sebagai shadow play atau sebuah permainan dengan
bayang-bayang. Padahal lebih dari itu, wayang memberikan gambaran lakon perihal
kehidupan manusia dan bagaimana cara mereka mengatasinya yang penuh dengan
nilai-nilai kehidupan juga nilai etik dan estetika. Nilai etik ialah nilai tentang baik atau buruknya
tingkah laku seseorang. Etik atau etika (ethice) merupakan
filsafat tingkah laku yang di dalamnya memuat penilaian terhadap tindakan apakah
dikatakan baik atau buruk berdasarkan ukuran-ukuran
tertentu. Sedangkan nilai estetik ialah nilai tentang keindahan. Estetika
(estetis) merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan seni (art)
dan keindahan (beauty).
Nilai etik dari pertunjukan wayang dapat
diliat dari dari cerita dan tokoh-tokohnya. Cerita pertunjukan wayang yang
berjudul “The Death of Rahwana” ini mengandung nilai etik untuk saling membantu
dan membela saudara yang sedang mengalami kesulitan sampai titik darah
penghabisan. Selain itu, nilai-nilai etik juga dapat dilihat dari
tokoh-tokohnya seperti Kumbakarna atau yang sering disebut sebagai Arya
Kumbakarna yang merupakan pendeta yang halus budi pekertinya, sakti, dan
termasyur karena keahliannya mengenai berbagai ilmu (Suhardi, dkk, 1994:47). Kumbakarna
merupakan adik kandung dari Dasamuka (Rahwana) yang merupakan raja raksasa dari
Negara Alengka. Kumbakarna secara fisik merupakan perwujudan raksasa yang
sangat tinggi dan mengerikan, tetapi memiliki sifat yang perwira bahkan sering
menasehati Dasamuka apabila keliru dalam melakukan sesuatu. Dengan demikian, nilai-nilai yang bisa kita
ambil dari Kumbakarna sebagai salah satu tokoh perwayangan ini ialah nilai-nilai
kearifan, kasih sayang, dan ketekunan.
Sebagai sebuah pertunjukan, wayang
memiliki nilai estetik yang begitu tinggi. Nilai estetika yang dapat diambil
dari pertunjukan wayang diantaranya ialah pelaksana
dan peralatan wayang. Sebagai karya seni, pagelaran wayang
meliputi beberapa cabang kesenian yaitu seni teater, ukir, sastra, dan musik. Dari unsur pelaksana, wayang terdiri
dari dalang (sutradara), niyaga
(pemain gamelan) dan pesinden
(penyanyi wanita) atau gerong (kor penyanyi pria). Dari unsur peralatan, wayang
terdiri dari wayang kulit, kelir,
blencong (lampu tradisional), gedhebog (batang pisang), kothak, cempala (kayu pemukul kotak),
kepyak (dari kuningan), dan
gamelan. Sedang unsur pertunjukan yang bisa dilihat adalah sabetan (gerak wayang), dan yang didengar meliputi (janturan), carios atau kandha, ginem (pocapan) suluk, tembang, dhodhogan,
kepyakan, gendhing, gerong, sindhenan.
(Seni Wayang Purwa, 2014)
Nilai estetika pada wayang di antaranya
bisa dilihat dari seni ukir wayang itu sendiri. Saya sangat kagum dengan seni
ukir yang ada pada wayang. Ukirannya begitu detail dan sangat indah sekali
sehingga bisa mencerminkan karakter dari setiap tokoh. Selain dari seni ukir
pada wayang, nilai estetika wayang dapat dilihat dari seni musiknya. Saya juga
sangat terpesona sekali dengan musik yang mengiringi pertunjukan wayang. Musik
yang dimainkan sangat cocok di setiap adegan-adegan yang dimainkan. Saya merasa
di setiap adegan-adegan memiliki ciri musik tersendiri. Misalnya pada saat
intro, musiknya bertempo lambat sampai sedang, kemudian ketika perkelahian
berlangsung, musiknya menjadi sangat cepat dan sangat pas penekanan-penekannya.
Selain itu, saya salut kepada Bapak dalang yang sangat apik, lihai dan lincah
dalam memainkan wayang. Bagaimana dalam satu waktu Bapak dalang tersebut bisa
memainkan wayang di layar, kemudian mengganti wayang pada saat pergantian
tokoh, memukul kotak wayang, dan membacakan
narasi tanpa teks yang menurut saya
narasi tersebut sudah ada di luar kepalanya. Sungguh, menurut saya dalang ialah
salah satu seniman yang luar biasa.
Itulah nilai etik dan estetikadari
pertunjukan wayang yang saya peroleh pada malam itu. Saya merasa bahwa
Indonesia beruntung mempunyai karya seni yang bernilai tinggi seperti wayang
ini. Saya juga kagum terhadap Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang tidak letih
memainkan wayang di setiap malam demi terus melestarikan dan memperkenalkan
karya seni asli Indonesia ini. Semoga kami para generasi muda tidak pernah lupa
dan terus menjaga semua karya seni yang merupakan harta berharga bagi
Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar