Sabtu, 16 Desember 2017

Menemukan Nilai Etik dan Estetika dalam Pertunjukan Wayang (Sebuah Refleksi dari Pagelaran Wayang)

Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017
 
 
         Pada hari itu, Jum’at (24 November 2017) saya bersama teman-teman kelas A Pendidikan Matematika 2017 Pasca Sarjana UNY menonton sebuah pertunjukan wayang di Museum Sonobudoyo Yogyakarta dengan niat untuk menemukan nilai etik dan estetika dalam pertunjukan wayang. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa wayang merupakan salah satu karya seni dan budaya Indonesia yang adi luhung dan wajib dijaga. Dan hari itu merupakan pengalaman pertama saya dalam melihat pertunjukan wayang, tentu saya sangat excited sekali.
Dari yang saya ketahui, cerita yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang pada hari itu berjudul “The Death of Rahwana (Kematian Rahwana)”. Cerita ini bersetting pada Alengka Kingdom dan diawali dengan Rahwana yang terkejut dengan berita kematian Kumbakarna. Melihat ini Indrajit menemui Rahwana untuk menceritakan kepada Rahwana bahwa dia dan kedua saudara laki-lakinya yakni Tisirah dan Trinita akan balas dendam kepada Rama. Begitu Indrajit sampai ke medan perang, Laksamana menemuinya. Dalam peperangan, Laksamana berhasil membunuuh Indrajit dan memotong kepalanya. Meski memiliki kekuatan yang besar, Rahwana tidak dapat melawan Rama. Dia dibunuh oleh Rama yang memenggal kepalanya dengan Gwawijaya senjata mematikannya. Dengan kematian Rahwana, dunia dibebaskan dari kekuatan jahat.
Pertunjukan wayang bukan hanya sekedar tontonan, tetapi juga tuntunan. Banyak orang, terutama bangsa Barat menganggap pertunjukan wayang kulit sebagai shadow play atau sebuah permainan dengan bayang-bayang. Padahal lebih dari itu, wayang memberikan gambaran lakon perihal kehidupan manusia dan bagaimana cara mereka mengatasinya yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan juga nilai etik dan estetika.  Nilai etik ialah nilai tentang baik atau buruknya tingkah laku seseorang. Etik atau etika (ethice) merupakan filsafat tingkah laku yang di dalamnya memuat penilaian terhadap tindakan apakah dikatakan baik  atau buruk berdasarkan ukuran-ukuran tertentu. Sedangkan nilai estetik ialah nilai tentang keindahan. Estetika (estetis) merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan seni (art) dan keindahan (beauty).
Nilai etik dari pertunjukan wayang dapat diliat dari dari cerita dan tokoh-tokohnya. Cerita pertunjukan wayang yang berjudul “The Death of Rahwana” ini mengandung nilai etik untuk saling membantu dan membela saudara yang sedang mengalami kesulitan sampai titik darah penghabisan. Selain itu, nilai-nilai etik juga dapat dilihat dari tokoh-tokohnya seperti Kumbakarna atau yang sering disebut sebagai Arya Kumbakarna yang merupakan pendeta yang halus budi pekertinya, sakti, dan termasyur karena keahliannya mengenai berbagai ilmu (Suhardi, dkk, 1994:47). Kumbakarna merupakan adik kandung dari Dasamuka (Rahwana) yang merupakan raja raksasa dari Negara Alengka. Kumbakarna secara fisik merupakan perwujudan raksasa yang sangat tinggi dan mengerikan, tetapi memiliki sifat yang perwira bahkan sering menasehati Dasamuka apabila keliru dalam melakukan sesuatu.  Dengan demikian, nilai-nilai yang bisa kita ambil dari Kumbakarna sebagai salah satu tokoh perwayangan ini ialah nilai-nilai kearifan, kasih sayang, dan ketekunan.
Sebagai sebuah pertunjukan, wayang memiliki nilai estetik yang begitu tinggi. Nilai estetika yang dapat diambil dari pertunjukan wayang diantaranya ialah pelaksana dan peralatan wayang. Sebagai karya seni, pagelaran wayang meliputi beberapa cabang kesenian yaitu seni teater, ukir, sastra, dan  musik. Dari unsur pelaksana, wayang terdiri dari dalang (sutradara), niyaga (pemain gamelan) dan pesinden (penyanyi wanita) atau gerong (kor penyanyi pria). Dari unsur peralatan, wayang terdiri dari wayang kulit, kelir, blencong (lampu tradisional), gedhebog (batang pisang), kothak, cempala (kayu pemukul kotak), kepyak (dari kuningan), dan gamelan. Sedang unsur pertunjukan yang bisa dilihat adalah sabetan (gerak wayang), dan  yang didengar meliputi (janturan), carios atau kandha, ginem (pocapan) suluk, tembang, dhodhogan, kepyakan, gendhing, gerong, sindhenan. (Seni Wayang Purwa, 2014)
Nilai estetika pada wayang di antaranya bisa dilihat dari seni ukir wayang itu sendiri. Saya sangat kagum dengan seni ukir yang ada pada wayang. Ukirannya begitu detail dan sangat indah sekali sehingga bisa mencerminkan karakter dari setiap tokoh. Selain dari seni ukir pada wayang, nilai estetika wayang dapat dilihat dari seni musiknya. Saya juga sangat terpesona sekali dengan musik yang mengiringi pertunjukan wayang. Musik yang dimainkan sangat cocok di setiap adegan-adegan yang dimainkan. Saya merasa di setiap adegan-adegan memiliki ciri musik tersendiri. Misalnya pada saat intro, musiknya bertempo lambat sampai sedang, kemudian ketika perkelahian berlangsung, musiknya menjadi sangat cepat dan sangat pas penekanan-penekannya. Selain itu, saya salut kepada Bapak dalang yang sangat apik, lihai dan lincah dalam memainkan wayang. Bagaimana dalam satu waktu Bapak dalang tersebut bisa memainkan wayang di layar, kemudian mengganti wayang pada saat pergantian tokoh, memukul kotak wayang, dan  membacakan  narasi tanpa teks yang menurut saya narasi tersebut sudah ada di luar kepalanya. Sungguh, menurut saya dalang ialah salah satu seniman yang luar biasa.
Itulah nilai etik dan estetikadari pertunjukan wayang yang saya peroleh pada malam itu. Saya merasa bahwa Indonesia beruntung mempunyai karya seni yang bernilai tinggi seperti wayang ini. Saya juga kagum terhadap Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang tidak letih memainkan wayang di setiap malam demi terus melestarikan dan memperkenalkan karya seni asli Indonesia ini. Semoga kami para generasi muda tidak pernah lupa dan terus menjaga semua karya seni yang merupakan harta berharga bagi Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar