17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017
Berikut ini ialah refleksi pertemuan VIII mata
kuliah filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit. Pada pertemuan VIII ini, seperti
biasa pertemuan dibuka dengan test jawab singkat oleh Profesor kemudian
dilanjutkan dengan diskusi mengenai semua yang ada dan mungkin ada ditinjau
dari filsafat. Menurut Prof. Marsigit, sebenar-benar filsafat ialah penjelasan.
Semua yang ada dan mungkin ada dapat dijelaskan oleh filsafat melalui proses
pikir dan refleksi, termasuk mengenai pure
mathematics dan mathematics education.
Sangat indah sekali, bahwa matematika terbagi
menjadi dua yakni matematika dari kaum
Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist yang konsisten, tidak
kontradiktif, obyektif, tidak terikat dengan ruang dan waktu dan kaum
Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist yang penuh dengan
kontradiksi, tidak konsisten, realtif, obyektif, terikat ruang dan waktu. Pure
Mathematician di bawah naungan Logicist-Formalist-Foundationalist dan pandangan
dari para mathematics education di bawah naungan
Intuitionist-Fallibist-Socio-Constructivist. Yang perlu ditekankah ialah,
orang-orang yang pure matehamtics dan orang-orang yang mathematical
educationist harus saling bersinergi dalam mengembangkan matematika. Diantara
keduanya tidak boleh ada saling ego yang ingin mengatakan bahwa alirannyalah
atau pandangannya lah yang lebih baik. Pure mathematics hendaknya menghargai
mathematics education begitupun sebaliknya.
Dari penjelasan di atas, matematika yang dicetuskan
oleh kaum Logicist-Formalist-Foundationlist yang berupa logika dan penalaran
saja merupakan matematika yang baru mecakup separuh dunia karena terbebas dari
ruang dan waktu. Sedangkan separuh dunianya lagi ialah matematika yang terikat
dengan ruang dan waktu. Matematika yang terikat dengan ruang dan waktu ialah
matematika yang mengikuti keadaan sebenarnya di dunia nyata. Matematika inilah
yang sebaiknya diajarkan kepada anak-anak. Oleh karena itu, kita butuh
matematika yang terikat dengan ruang dan waktu sehingga kita mendapatkan
matematika yang utuh.
Contoh separuh dunia yang dimaksud oleh kaum
Logicist-Formalist-Foundationalist adalah anggapan mereka tentang matematika
yang bersifat terbebas dari ruang dan waktu. Artinya, semua unsur dan
simbol-simbol dalam matematika tidak terikat ruang dan waktunya. 3 tetap sama
dengan 3 dimanapun, kapanpun, dan apapun kondisinya. Hal ini berbeda dengan
dengan dunia hakikat, 3 bisa saja tidak sama dengan tiga sesuai dengan ruang
dan waktunya. Contoh yang lain yakni 3 + 4 = 7 adalah benar jika tidak
memperhatikan ruang dan waktunya yakni dunianya para
Logicist-Formalist-Foundationalist. Akan tetapi, 3 + 4 = 7 akan salah jika
memperhatikan ruang dan waktu, seperti 3 dokter ditmbah 4 pesien tidak bisa
kita katakan sebagai 7 dokter dan pasien. Matematika seperti inilah (di dunia
nyata) yang disebut sebagai ilmu kontradiktif. Sedangkan anak-anak sekolah
dasar, ia belum mampu untuk memahami ruang dan waktu serta semesta pembicaraan.
Oleh karena itu, untuk penjumlahan speerti ini maka ajarkanlah siswa tanpa
memperhatikan semesta pembicaraan, samakan saja misalnya 3 pensil ditambah 4
pensil sehingga menjadi 7 pensil, ini akan lebih mudah dipahami siswa untuk
tahap belajar mereka yang masih kongkrit.
Semua yang ada dan mungkin ada dalam kehidupan ini
baiknya disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Begitu juga dengan matematika.
Matematika sebaiknya diajarkan dengan memperhatikan subyek yang belajar. Jika
mahasiswa di peguruan tinggi maka kita bisa menggunakan prinsip matematika yang
disebutkan oleh Prof. Sudjadi (yang bersifat
Logicist-Formalist-Foundationalist). Akan tetapi, siswa di sekolah sebaiknya
diajarkan matematika dengan menggunakan prinsip matematika sekolah oleh Ebbutt
and Straker (1995) yangmana lebih dekat kepada siswa dan mendorong siswa untuk
belajar secara konstruktivisme.
Sistem matematika yang dibangun oleh kaum
Logicist-Formalist-Foundationalist diibaratkan sebagai bidadari-bidadari cantik
yangmana ketika sudah turun ke bumi (diajarkan kepada anak-anak sekolah) harus
melepaskan sayap dan baju kayangannya (berubah menjadi relaistik sesuai dengan
dunia nyata) agar matematika lebih mudah dipahami oleh anak-anak sekolah.
Selain itu, dikatakan di atas bahwa Pure Mathematics bersifat konsistensi
sedangkan School Mathematics bersifat kontradiksi. Namun, keduanya harus saling
melengkapi agar membentuk matematika seluruh dunia.
Berdasarkan penjelasan di atas, seorang
matematikawan ialah seorang yang Logicist-Formalist-Foundationlist. Kemudian
bagaimana hubungan antara matematika, filsafat, dan pendidikan. Jika matematika
melakukan penelitiannya, maka filsafat merefleksikannya, dan pendidikanlah yang
memikirkan bagaimana menerapkannya kepada siswa. Obyek matematika dipandang
menjadi dua yakni sebagai ide dalam pikirannya (Absolutism-Idealism-Platonism)
dan di luar pikirannya (Intuitionism-Realism-Aristotelianism). Matematika yang
di dalam pikiran inilah yang disebut sebagai matematika kaum
Logicist-Formalist-Foundationlist.
Kemudian ada dua istilah yang baru namun maknanya
tetap sama yakni Pure Horizontal Mathematics dan Pure Vertical Mathematics.
Pure Vertical Mathematics ini merupakan Pure Mathematics yang merupakan produk
dari Logicist-Formal-Foundationalist. Sedangkan Pure Horizontal Mathematics
merupakan Mathematical Educationist di bawah naungan Intuitionist-Fallibist-Socio-Constructivist.
Diantara Pure Horizontal Mathematics dan Pure Vertical Mathematics terdapat
yang namanya Quasi-Mathematics. Menurut saya, Quasi-Mathematics inilah yang
menghubungkan dan gabungan pure mathematics dan mathematical educationist.
Menurut Immanuel Kant matematika bisa menjadi ilmu
tetapi juga bisa tidak, yangmana matematika menjadi ilmu jika ia dibangun di
atas intuisi atau kerangka ruang dan waktu dan matematika tidak menjadi ilmu
jika ia hanya a priori atau pure logic.
Sehingga, agar matematika menjadi ilmu bagi kita dan bagi siswa maka kita
sebaiknya mengajarkan matematika dengan menyesuaikan dengan ruang dan waktunya
atau dengan kata lain mengajarkan bahwa matematika ada di kehidupan nyata kita
sesuai dengan ruang dan waktunya. Meyadarkan bahwa matematika sangat bermanfaat
yang bukan hanya merupakan kumpulan angka dan simbol-simbol saja (pure logic).
Dengan begitu, siswa akan mersakan matematika sebagai ilmu.
Intuisi ialah kemampuan memahami sesuatu tanpa
melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Pemahaman tersebut tiba-tiba
saja datangnya dan di luar kesadaran. Misalnya, seseorang tiba-tiba saja
terdorong untuk membaca buku. Intuisi memiliki ciri tidak tahu kapan, dimana,
dan bagaimana memperoleh kemampuan tersebut. Intuisi cocok untuk diterapkan
dalam proses pembelajaran matematika terutama pada siswa sekolah dasar dimana
mereka belum memiliki kemampuan untuk bernalar dan mengabalisis.
Intuisi matematika akan muncul setelah ada
pengalaman (experience) matematika. Bagi siswa sekolah, pengalaman matematika
(mathematical experiences) dibangun diatas keterampilan matematika. Sedangkan
intuisi matematika adalah hal yang penting dalam proses belajar matematika.
Oleh karena itu, proses pembelajaran di sekolah baiknya mengasah keterampilan
matematika siswa, sehingga dengan begitu pengalaman matematika siswa akan
terbentuk dan intuisi matematika siswa akan muncul. Keterampilan matematika
dapat dilatihkan dengan menerapkan berbagai metode pembelajaran yang berpusat
pada siswa dan memancing siswa untuk melatih keterampilannya.
Intuisi matematika juga merupakah salah satu
kebudayaan matematika itu sendiri. Semua pihak, sekolah, guru, orang tua,
bertanggung jawab atas membudayakan matematika terhadap siswa. Oleh karena itu,
baiknya kita sebagai orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan terus
mengembangkan inovasi-inovasi agar dapat membudayakan matematika sehingga dapat
memunculkan intuisi matematika siswa dengan baik. Salah satu hal yang dapat
dilakukan untuk membudayakan matematika ialah membiasakan siswa untuk melihat
bahwa hal-hal yang ada di sekitar mereka merupakan penerapan dari materi
matematika.
Kompetensi matematika adalah kemampuan untuk
menyelesaikan permasalahan dalam matematika itu sendiri ataupun permasalahan
matematika dalam dsebut dalam dunia nyata. Macam-macam kemampuan matematika
antara lain kemampuan pemecahan masalah, kemampuan bernalar, kemampuan
berkomunikasi, kemampuan membuat koneksi, dan kemampuan representasi. Kemampuan
matematika tersebut juga dapat menghasilkan intuisi matematika. Oleh karena
itu, seyogyanya kita yang bergerak di bidang pendidikan untuk terus memotivasi
pihak sekolah agar mengembangkan kompetensi matematika siswa untuk menghasilkan
intuisi matematika siswa.
Selain sangat bermanfaat bagi proses pembelajaran
matematika, intuisi matematika juga dapat dijadikan sebagai dugaan sementara
dalam proses penelitian matematika. Dengan demikian, intuisi matematika
sebaiknya terus dimunculkan dala proses pembelajaran matematika agar nanti
outputnya intuisi matematika dapat menjadi inisialisasi dalam penelitian
matematika.