Sabtu, 23 Desember 2017

Sebuah Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu Kaya Makna : Psikologi Spiritual

Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017

 
karena sebenar-benar kuasa, memperhatikan ciptaannya.. (Prof.Marsigit, 2017)

Filsafat ialah memikirkan hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya. Hal inilah yang kami rasakan saat perkuliahan filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit pada tanggal 12 Desember 2017 yang lalu. Selalu ada nilai kehidupan yang bisa dipetik dari pemikiran Prof. Marsigit yang berbeda dari yang lainnya.
Pada hari itu saya melihat sebuah metafisik dari sebuah perjalanan kehidupan yang sangat mempesona. Hari itu tepat satu minggu Prof. Marsigit menjabat menjadi Direktur Pasca Sarjana UNY. Tidak ada yang berubah dari beliau, masih dengan gaya sederhananya dan pemikirannya yang luar biasa.
Prof. Marsigit bukanlah orang yang menjalani hidup dengan penuh ambisi. Beliau menjalani kehidupan ini dengan apa adanya. Berbuat dan berusaha sebaik mungkin sampai lingkungan sekitarpun terpesona dengan ilmu dan kesederhanaanya. Jangan mendahuli kehendak Tuhan, jalanilah semuanya dengan semestinya, itulah pesannya.
Betapa ilmu dan deretan gelar yang ia punya tidak pernah menjadikannya sosok yang selalu ingin dihormati. Betapa pengalaman dan jabatan yang ia miliki tidak pernah ingin menjadikannya sosok yang ingin dikagumi. Ia selalu melangkahkan kakinya agar orang-orang di sekitarnya menjadi orang yang berilmu. Memberi kesempatan dan jalan kepada orang lain untuk bisa mendapatkan pengalaman yang pernah ia rasakan.
Berbuatlah sebaik mungkin karena sebenar-benar kuasa memperhatikan ciptaannya. Itulah pesan beliau yang sangat menyentuh di hati. Bertindaklah seikhlas mungkin karena bukan manusia tujuan kita, tetapi Tuhan dengan semua ke-Maha Agungan-Nya.
Apa haknya engkau membenci. Tidak ada, tidak ada hak sama sekali. Jalani kehidupan ini dengan penuh syukur. Setiap kejadian itu mempunyai masanya masing-masing. Jangan pernah memaksa ingin segera lulus sekolah apabila belum masanya, jangan pernah memaksa ingin segera bekerja jika memang belum masanya. Jalani apa yang ada di depan mata sekarang dengan sebaik mungkin, karena seperti kata Bapak di atas, sebenar-benar kuasa akan memperhatikan ciptaannya.
Dari hati saya yang terdalam, saya ingin mengucapkan selamat kepada Prof. Marsigit atas amanah barunya sebagai Direktur Pasca Sarjana UNY. Saya yakin amanah tidak pernah salah dalam memilih pundak. Ini bukanlah suatu kebetulan. Tetapi memang sudah pas ruang dan waktunya untuk Bapak mengemban amanah ini. Menjadi direktur yang sederhana, dengan segenap ilmu dan pengalaman yang sudah ada.
Doakan kami agar bisa menjadi sosok yang selalu berusaha dan melakukan yang terbaik. Doakan kami agar semua syarat yang harus kami tempuh dalam studi S2 ini dapat kami penuhi. Kemudian menjadi orang-orang yang berilmu sehingga dapat memberi kebermanfaatan bagi orang-orang di sekitar kami.
Semoga di tangan dingin Bapak, Pasca Sarjana UNY akan menjadi program Pasca Sarjana yang selalu lebih baik dari waktu ke waktu. Menjadi Direktur yang mengayomi dan menyejukan hati rekan kerja dan mahasiswanya. Menjadi direktur yang dibanggakan semua elemen-elemen pendukungnya. Menjadi direktur yang sederhana dengan segala ilmu dan pengalaman yang Bapak punya. Sungguh kami bangga.

Refleksi Pertemuan IX dan X Filsafat Ilmu : Hermeneutika Pembelajaran Matematika

Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017

Perkuliahan filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit pada hari selasa tanggal 28 November 2017 diisi dengan penyajian hasil presentasi beliau di Chiang Mai tentang The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Reflection Prior to Lesson Study Activities.
Hermeneutika merupakan sebuah proses untuk menafsirkan, menginterpretasikan, dan memahami sesuatu. Di dalam hermeneutika terdapat dua unsur dasar yaitu lurus dan melingkar.  Lurus karena kita tidak akan bisa mengulangi hal yang sama. Melingkar karena kita melakukan interaksi. Hermeneutika ini juga dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menerjemahkan hal apapun. Oleh karena itu, hermeneutika dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan. Melalui hermeneutika dalam proses pembelajaran matematika, diharapkan siswa dapat memahami matematika dan mengeksplor potensi kecerdasan matematikanya lebih mendalam sehingga siswa dapat mandiri dalam menyelesaikan suatu permasalahan matematika.
Iceberg Approach merupakan gambaran gunung es matematika realistik sebagai salah satu pendekatan untuk berhermeneutika dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika realistik (RME) tidak lepas dari sosok seorang ahli matematika dan ahli pendidikan yakni Prof. Hans Freudenthal (Abdussakir, 2010). Freudenthal menyatakan bahwa matematika adalah “human activity” dan dari ide inilah RME dikembangkan. Pada pembelajaran RME, Freudenthal berpendapat bahwa matematika harus dikaitkan  dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari.  Realistik dalam hal ini tidak harus mengacu pada hal-hal realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa.
Pada iceberg approach (pendekatan gunung es matematika), di bagian paling dasar diisi oleh objek-objek matematika yang ada di kehidupan nyata sehari-hari, di atasnya ada model matematikanya, kemudian di atasnya lagi ialah hubungan angka dan yang paling atas notasi formalnya. Jika di Indonesia, pendekatan gunung es matematika ini dianalogikan menjadi gunung berapi.
Siswa diibaratkan berada pada dasar gunung. Artinya alangkah lebih baik mengajarkan matematika kepada siswa dengan melibatkan objek-objek yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Jika seorang guru langsung mengajarkan matematika kepada siswa dengan memberikan notasi-notasi matematika (objek matematika yang abstrak) maka sama saja pengajar tersebut teleh mengeluarkan larva-larva gunung berapi sehingga akan menganggu kehidupan (cara berfikir dan belajar) siswa itu sendiri. Ajarjkan matematika kepada siswa melalui benda-benda konkret yang ada di sekitarnya kemudian dengan perlahan ajak siswa ke puncak gunung (matematika formal) bertahap melalui pemodelan matematika dan pemodelan formal. Tentu perlu usaha yang tekun untuk mewujudkan hal ini.
Matematika akan menjadi bencana bagi siswa jika siswa tidak siap dalam menghadapinya. Sebaliknya matematika akan menjadi berkah bagi siswa yang siap dalam menghadapinya. Sehingga, seorang guru seyogyanya membantu siswa untuk menjadi seseorang yang siap dalam menerima matematika sehingga siswa akan merasa bahwa matematika akan menjadi berkah bagi dirinya, bukan bencana.
Bantulah juga siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya. Bukan hanya mentransfer pengetahuan kepada siswa. Siswa yang mengkonstruk pengetahuannya diprediksikan berkembang dengan baik dan dapat menjadi sumber kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.

Refleksi Pertemuan VIII Filsafat Ilmu : Pure Mathematics dan Mathematics Education

Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017

Berikut ini ialah refleksi pertemuan VIII mata kuliah filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit. Pada pertemuan VIII ini, seperti biasa pertemuan dibuka dengan test jawab singkat oleh Profesor kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai semua yang ada dan mungkin ada ditinjau dari filsafat. Menurut Prof. Marsigit, sebenar-benar filsafat ialah penjelasan. Semua yang ada dan mungkin ada dapat dijelaskan oleh filsafat melalui proses pikir dan refleksi, termasuk mengenai pure mathematics dan mathematics education.
Sangat indah sekali, bahwa matematika terbagi menjadi dua yakni matematika dari kaum Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist yang konsisten, tidak kontradiktif, obyektif, tidak terikat dengan ruang dan waktu dan kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist yang penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, realtif, obyektif, terikat ruang dan waktu. Pure Mathematician di bawah naungan Logicist-Formalist-Foundationalist dan pandangan dari para mathematics education di bawah naungan Intuitionist-Fallibist-Socio-Constructivist. Yang perlu ditekankah ialah, orang-orang yang pure matehamtics dan orang-orang yang mathematical educationist harus saling bersinergi dalam mengembangkan matematika. Diantara keduanya tidak boleh ada saling ego yang ingin mengatakan bahwa alirannyalah atau pandangannya lah yang lebih baik. Pure mathematics hendaknya menghargai mathematics education begitupun sebaliknya.
Dari penjelasan di atas, matematika yang dicetuskan oleh kaum Logicist-Formalist-Foundationlist yang berupa logika dan penalaran saja merupakan matematika yang baru mecakup separuh dunia karena terbebas dari ruang dan waktu. Sedangkan separuh dunianya lagi ialah matematika yang terikat dengan ruang dan waktu. Matematika yang terikat dengan ruang dan waktu ialah matematika yang mengikuti keadaan sebenarnya di dunia nyata. Matematika inilah yang sebaiknya diajarkan kepada anak-anak. Oleh karena itu, kita butuh matematika yang terikat dengan ruang dan waktu sehingga kita mendapatkan matematika yang utuh.
Contoh separuh dunia yang dimaksud oleh kaum Logicist-Formalist-Foundationalist adalah anggapan mereka tentang matematika yang bersifat terbebas dari ruang dan waktu. Artinya, semua unsur dan simbol-simbol dalam matematika tidak terikat ruang dan waktunya. 3 tetap sama dengan 3 dimanapun, kapanpun, dan apapun kondisinya. Hal ini berbeda dengan dengan dunia hakikat, 3 bisa saja tidak sama dengan tiga sesuai dengan ruang dan waktunya. Contoh yang lain yakni 3 + 4 = 7 adalah benar jika tidak memperhatikan ruang dan waktunya yakni dunianya para Logicist-Formalist-Foundationalist. Akan tetapi, 3 + 4 = 7 akan salah jika memperhatikan ruang dan waktu, seperti 3 dokter ditmbah 4 pesien tidak bisa kita katakan sebagai 7 dokter dan pasien. Matematika seperti inilah (di dunia nyata) yang disebut sebagai ilmu kontradiktif. Sedangkan anak-anak sekolah dasar, ia belum mampu untuk memahami ruang dan waktu serta semesta pembicaraan. Oleh karena itu, untuk penjumlahan speerti ini maka ajarkanlah siswa tanpa memperhatikan semesta pembicaraan, samakan saja misalnya 3 pensil ditambah 4 pensil sehingga menjadi 7 pensil, ini akan lebih mudah dipahami siswa untuk tahap belajar mereka yang masih kongkrit.
Semua yang ada dan mungkin ada dalam kehidupan ini baiknya disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Begitu juga dengan matematika. Matematika sebaiknya diajarkan dengan memperhatikan subyek yang belajar. Jika mahasiswa di peguruan tinggi maka kita bisa menggunakan prinsip matematika yang disebutkan oleh Prof. Sudjadi (yang bersifat Logicist-Formalist-Foundationalist). Akan tetapi, siswa di sekolah sebaiknya diajarkan matematika dengan menggunakan prinsip matematika sekolah oleh Ebbutt and Straker (1995) yangmana lebih dekat kepada siswa dan mendorong siswa untuk belajar secara konstruktivisme.
Sistem matematika yang dibangun oleh kaum Logicist-Formalist-Foundationalist diibaratkan sebagai bidadari-bidadari cantik yangmana ketika sudah turun ke bumi (diajarkan kepada anak-anak sekolah) harus melepaskan sayap dan baju kayangannya (berubah menjadi relaistik sesuai dengan dunia nyata) agar matematika lebih mudah dipahami oleh anak-anak sekolah. Selain itu, dikatakan di atas bahwa Pure Mathematics bersifat konsistensi sedangkan School Mathematics bersifat kontradiksi. Namun, keduanya harus saling melengkapi agar membentuk matematika seluruh dunia.
Berdasarkan penjelasan di atas, seorang matematikawan ialah seorang yang Logicist-Formalist-Foundationlist. Kemudian bagaimana hubungan antara matematika, filsafat, dan pendidikan. Jika matematika melakukan penelitiannya, maka filsafat merefleksikannya, dan pendidikanlah yang memikirkan bagaimana menerapkannya kepada siswa. Obyek matematika dipandang menjadi dua yakni sebagai ide dalam pikirannya (Absolutism-Idealism-Platonism) dan di luar pikirannya (Intuitionism-Realism-Aristotelianism). Matematika yang di dalam pikiran inilah yang disebut sebagai matematika kaum Logicist-Formalist-Foundationlist.
Kemudian ada dua istilah yang baru namun maknanya tetap sama yakni Pure Horizontal Mathematics dan Pure Vertical Mathematics. Pure Vertical Mathematics ini merupakan Pure Mathematics yang merupakan produk dari Logicist-Formal-Foundationalist. Sedangkan Pure Horizontal Mathematics merupakan Mathematical Educationist di bawah naungan Intuitionist-Fallibist-Socio-Constructivist. Diantara Pure Horizontal Mathematics dan Pure Vertical Mathematics terdapat yang namanya Quasi-Mathematics. Menurut saya, Quasi-Mathematics inilah yang menghubungkan dan gabungan pure mathematics dan mathematical educationist.
Menurut Immanuel Kant matematika bisa menjadi ilmu tetapi juga bisa tidak, yangmana matematika menjadi ilmu jika ia dibangun di atas intuisi atau kerangka ruang dan waktu dan matematika tidak menjadi ilmu jika ia hanya a priori atau pure logic. Sehingga, agar matematika menjadi ilmu bagi kita dan bagi siswa maka kita sebaiknya mengajarkan matematika dengan menyesuaikan dengan ruang dan waktunya atau dengan kata lain mengajarkan bahwa matematika ada di kehidupan nyata kita sesuai dengan ruang dan waktunya. Meyadarkan bahwa matematika sangat bermanfaat yang bukan hanya merupakan kumpulan angka dan simbol-simbol saja (pure logic). Dengan begitu, siswa akan mersakan matematika sebagai ilmu.
Intuisi ialah kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Pemahaman tersebut tiba-tiba saja datangnya dan di luar kesadaran. Misalnya, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca buku. Intuisi memiliki ciri tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana memperoleh kemampuan tersebut. Intuisi cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran matematika terutama pada siswa sekolah dasar dimana mereka belum memiliki kemampuan untuk bernalar dan mengabalisis.
Intuisi matematika akan muncul setelah ada pengalaman (experience) matematika. Bagi siswa sekolah, pengalaman matematika (mathematical experiences) dibangun diatas keterampilan matematika. Sedangkan intuisi matematika adalah hal yang penting dalam proses belajar matematika. Oleh karena itu, proses pembelajaran di sekolah baiknya mengasah keterampilan matematika siswa, sehingga dengan begitu pengalaman matematika siswa akan terbentuk dan intuisi matematika siswa akan muncul. Keterampilan matematika dapat dilatihkan dengan menerapkan berbagai metode pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memancing siswa untuk melatih keterampilannya.
Intuisi matematika juga merupakah salah satu kebudayaan matematika itu sendiri. Semua pihak, sekolah, guru, orang tua, bertanggung jawab atas membudayakan matematika terhadap siswa. Oleh karena itu, baiknya kita sebagai orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan terus mengembangkan inovasi-inovasi agar dapat membudayakan matematika sehingga dapat memunculkan intuisi matematika siswa dengan baik. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk membudayakan matematika ialah membiasakan siswa untuk melihat bahwa hal-hal yang ada di sekitar mereka merupakan penerapan dari materi matematika.
Kompetensi matematika adalah kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan dalam matematika itu sendiri ataupun permasalahan matematika dalam dsebut dalam dunia nyata. Macam-macam kemampuan matematika antara lain kemampuan pemecahan masalah, kemampuan bernalar, kemampuan berkomunikasi, kemampuan membuat koneksi, dan kemampuan representasi. Kemampuan matematika tersebut juga dapat menghasilkan intuisi matematika. Oleh karena itu, seyogyanya kita yang bergerak di bidang pendidikan untuk terus memotivasi pihak sekolah agar mengembangkan kompetensi matematika siswa untuk menghasilkan intuisi matematika siswa.
Selain sangat bermanfaat bagi proses pembelajaran matematika, intuisi matematika juga dapat dijadikan sebagai dugaan sementara dalam proses penelitian matematika. Dengan demikian, intuisi matematika sebaiknya terus dimunculkan dala proses pembelajaran matematika agar nanti outputnya intuisi matematika dapat menjadi inisialisasi dalam penelitian matematika.

Refleksi Pertemuan VII Filsafat Ilmu : Mathematics Education

Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017

            Berikut ini ialah refleksi pertemuan VII mata kuliah filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit. Pada pertemuan VII ini, seperti biasa kami diberikan test jawab singkat oleh Profesor kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai semua yang ada dan mungkin ada ditinjau dari filsafat. Semua yang ada dan mungkin ada dapat dijelaskan oleh filsafat melalui proses pikir dan refleksi, termasuk mengenai pendidikan matematika.
Pada proses pendidikan, perlu diperhatikan tingkat perkembangan seorang siswa. Periode perkembangan intelektual anak menurut Piaget ialah sebagai berikut :
1. Periode sensori-motor (0 - 2 tahun)
2. Periode pra-operasioanl (2 - 7 tahun)
3. Periode operasional konkret (7 - 11 tahun)
4. Periode operasional formal (11 - dewasa)
Pada tahap sensori motor, anak mengenali lingkungan dengan kemampuan sensorik dan motorik. Pada tahap pra-operasional, anak mengandalkan diri pada persepsi tentang realitas. Pada tahap operasi konkret, anak dapat mengembangkan pikiran logis walaupun kadang-kadang memecahkan masalah secara trial and error. Pada tahap operasional formal, anak dapat berfikir abstrak seperti pada orang dewasa. Dengan berlandaskan pada teori ini, sebaiknya para pandidik menyesuaikan proses belajar mengajar dengan teori periode perkembangan kognitif siswa ini agar proses pembelajaran di kelas dapat terlaksana dengan baik dan siswa dapat memahami materi pelajaran sesuai dengan kemampuannya.
Menurut Piaget, teori perkembangan kognitif siswa ialah proses dimana siswa mengkonstruk pengetahuannya sendiri di dalam pikirannya. Dengan kata lain, ada proses kognitif yang terjadi di dalam diri siswa ketika mereka mempelajari sesuatu. Sedangkan Vygotsky mengatakan bahwa teori perkembangan kognitif siswa merupakan gabungan antara proses kognitif yang terjadi di dalam diri siswa serta interaksinya dengan lingkungannya. Dengan demikian, proses belajar yang dilakukan siswa melibatkan proses kognitif di dalam dirinya dan lingkungannya. Sehingga, proses belajar yang dilakukan sebaiknya memaksimalkan proses kognitif siswa dan mengkondusifkan lingkungan belajar siswa.
Menurut Vygotsky, organisasi pembelajaran yang tepat adalah faktor kunci dalam proses pedagogik. Dua hal dalam proses belajar mengajar dari teori belajar Vygotsky adalah zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding. ZPD merupakan zona antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual ialah kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri. Sedangkan tingkat perkembangan potensial ialah kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah dengan bantuan orang dewasa. Scaffolding merupakan proses memberikan sejumlah bantuan dalam tahap awal pembelajaran, kemudian baru melepaskan anak untuk mempunyai tanggung jawab sendiri dalam proses belajarnya setelah ia menguasai bahan yang dipelajari. Dengan demikian, hal yang penting bagi guru untuk memberikan bantuan kepada siswa ketika ia masih belum menguasai apa yang dipelajari. Sehingga menurut saya, perlu melakukan sebuah penelitian mengenai bantuan-bantuan apa saja yang dapat diberikan kepada siswa untuk menunjang proses pembelajaran dengan baik.
Mathematics education juga dapat dikatakan sebagai matematika sekolah karena matematika ini untuk siswa di sekolah dasar sampai sekolah menengah. Hakikat matematika sekolah diantaranya ialah mengeksplorasi relasi atau hubungan, matematika adalah problem solving, matematika adalah komunikasi, dan matematika adalah investigasi. Keempat hal ini dapat menjadi landasan bagi kita yang mengajar di sekolah agar matematika dapat tersampaikan dengan baik ke siswa. Hal ini mempertegas bahwa seyogyanya matematika sekolah diajarkan tidak dengan definisi dan teorema tetapi lebih kepada menginvestigasi dan mengeksplorasi kehidupan nyata menjadi ilmu matematika.
Pada matematika sekolah, matematika menampakan dirinya sebagai architectonic mathematics. Artinya, siswalah yang menjadi arsitek untuk membangun matematika di dalam pikirannya. Architectonic mathematics berarti siswa layaknya seorang arsitek yang membangun pengetahuan matematika di dalam pikirannya sendiri dengan mengeksplorasi dan menginvestigasi (mengamati). Sehingga selayaknya siswa melalukan kegiatan pembelajaran matematika melalui kegiatan-kegiatan seperti diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, dan memberi kritik atau masukkan.
Semakin kedepan, semakin canggih teknologi, semakin besar dilema, dan akan semakin besar pula kontradiksi. Oleh karena itu, kita sebagai calon pendidik hendaknya dapat memperhatikan dan memahami perkembangan siswa agar dapat melakukan proses pembelajaran yang lebih  baik berdasarkan teori-teori yang ada. Kemudian, pikirkanlah apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang difikirkan. Janganlah kita merasa sombong dan tidak percaya pada Tuhan layaknya teori Positivisme dari August Comte yang mengatakan bahwa saintis itu di atas segala-galanya dan menolak adanya keberadaan kekuasaan Tuhan. Berusahalah di atas doa. Jadilah diri sendiri, maka akan kita nikmati indahnya hidup ini.

Refleksi Pertemuan V dan VI Filsafat Ilmu : Bersilaturahim dengan Ruang dan Waktu



Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017
     

     Filsafat memikirkan hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun, termasuk dalam memikirkan bagaimana caranya bersilaturahim dengan ruang dan waktu. Semua yang ada dan mungkin ada di dunia nyata terikat oleh ruang dan waktu. Semuanya bersilaturahim dan bersinergi dengan ruang dan waktu demi menjalani kehidupan.
     Hidup itu membangun. Membangun dengan cara berikhtiar di atas doa. Hidup itu juga perjuangan, karena kita meninggalpun masih harus berjuang. Hidup dan mati, pergi dan datang adalah gerakan menembus dan bersilaturahim dengan ruang dan waktu. Setiap manusia tidak ada yang sempurna. Sehingga dalam kehidupan sehari-harinya manusia terus bersilaturahim dengan ruang dan waktu demi untuk melengkapi ketidaksempurnannya.
    Reduksi merupakan salah satu bentuk dari penyesuaian manusia terhadap ketidaksemupurnaannya. Prior knowledge saya selama ini mengenai reduksi adalah pengurangan. Sebenarnya reduksi itu bukanlah pengurangan melainkan mengutamakan sifat-sifat tertentu dibandingkan dengan sifat-sifat yang lain sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan. Seperti dalam pembelajaran matematika, sifat suatu kubus itu banyak sekali meliputi yang ada dan mungkin ada, karena sedang belajar matematika, maka yang dipikirkan hanya kubus sebagai bentuk dan ukurannya saja, sifat-sifat yang lainnya disimpan terlebih dahulu untuk digunakan dalam ruang dan waktu yang lainnya. Menurut saya, reduksi ini juga berkaitan dengan kemampuan manusia yang terbatas, tidaklah mampu seorang manusia memikirkan semua sifat-sifat yang ada dan mungkin ada dalam satu waktu, ia hanya dapa menggunakan sifat-sifat yang utama saja dalam satu waktu tertentu, karena kesempurnaan yang hakiki hanya milik Allah SWT.
Jalani saja hidup ini secara alami. Hal-hal yang jahat dalam kehidupan direduksi dan tidak perlu diingat. Ingatan itu hanyalah satu titik diantara keseluruhan, yang lainnya ialah fikiran, tindakan, perasaan, kenyataan. Ingatan berstrukutur, mulai dari sederhana sampai yang tidak sederhana. Oleh karena itu, ingatlah pada hal yang baik-baik saja. Segala sesuatu yang dicintai, itulah yang diingat agar proses silaturahim pada ruang dan waktu ini menjadi efektif di setiap saatnya.
Dalam proses bersilaturahim dengan ruang dan waktu, tidak semuanya harus dipahami dan dijalankan berdasarkan logika dan penalaran. Kita bisa berkomunikasi (bersilaturahim dengan ruang dan waktu ) karena mempunyai skema dan intuisi yang sama. Seperti yang kita ketahui bahwa intuisi ialah kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Pemahaman tersebut tiba-tiba saja datangnya dan di luar kesadaran. Misalnya, seseorang tiba-tiba saja terdorong untuk membaca buku. Intuisi memiliki ciri tidak tahu kapan, dimana, dan bagaimana memperoleh kemampuan tersebut. Contoh intuisi yakni dalam proses pembelajaran matematika terutama pada siswa sekolah dasar dimana mereka belum memiliki kemampuan untuk bernalar dan menganalisis. Sehingga, mereka menggunakan intuisi proses untuk bersilaturahim dengan matematika.
Berkumpulnya hati-hati yang ikhlas akan mengantarkan pada keadaan yang damai, nyaman, dan tentram. Hati-hati yang ikhlas akan melahirkan orang-orang yang bekerja dengan totalitas, tidak akan mengambil yang bukan haknya, dan tahu betul bagaimana tanggung jawabnya. Hati yang ikhlas bukan berarti hanya menerima apa saja yang diperlakukan orang lain terhadapnya. Tetapi hati yang ikhlas akan berpikir kritis apakah sudah tepat atau belum apa yang ia lakukan terhadap orang lain atau apa yang orang lainlakukan terhadapnya.
Memikirkan apakah sudah tepat atau belum apa yang dilakukan termasuk salah satu bentuk dari metafisik (melihat pada sebaliknya). Metafisik ialah memahami maksud selain dari apa yang dilihat dan apa yang di dengar. Contohnya warna tas yang tampak mata berwarna hitam sebenarnya warna aslinya ialah selain hitam, warna hitam yang kita lihat merupakan warna yang tidak dapat diserap sehingga warna hitamlah yang terlihat oleh mata kita. Begitu juga dalam hidup ini, kita harus pandai melihat maksud dari apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Kita tidak boleh hanya melihat tampak luarnya saja. Tampak luarnya seperti sulit sekali, tetapi pasti ada maksud yang baik bagi diri kita terhadap kesulitan tersebut. Seperti yang sering kita dengar, bahwa semua pasti ada hikmahnya. Metafisik ini akan mengantarkan kita pada sifat kritis saat bersilaturahim dan menembus ruang dan waktu.
Ruang dan waktu adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Apapun yang kita lakukan selalu mempertimbangkan ruang dan waktu yang ada dan seseorang yang bijak ialah seseorang yang tahu menempatkan ruang dan waktu dengan baik. Menggapai dan bersilaturahim ruang dan waktu dapat kita lakukan dengan selalu mempertimbangkan apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan ruang dan waktu yang sedang berjalan. Dalam agama Islam, Allah sudah bersumpah dengan waktu dalam surat Al-Asr (Demi Masa), Allah bersumpah dengan waktu karena kebanyakan manusia terlena dengan waktu dan tidak menggunkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita menjadi seseorang yang bersilaturahim dengan ruang dan waktu yang ada dengan cara dan proses yang sebaik-baiknya.

Sabtu, 16 Desember 2017

Menemukan Nilai Etik dan Estetika dalam Pertunjukan Wayang (Sebuah Refleksi dari Pagelaran Wayang)

Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017
 
 
         Pada hari itu, Jum’at (24 November 2017) saya bersama teman-teman kelas A Pendidikan Matematika 2017 Pasca Sarjana UNY menonton sebuah pertunjukan wayang di Museum Sonobudoyo Yogyakarta dengan niat untuk menemukan nilai etik dan estetika dalam pertunjukan wayang. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa wayang merupakan salah satu karya seni dan budaya Indonesia yang adi luhung dan wajib dijaga. Dan hari itu merupakan pengalaman pertama saya dalam melihat pertunjukan wayang, tentu saya sangat excited sekali.
Dari yang saya ketahui, cerita yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang pada hari itu berjudul “The Death of Rahwana (Kematian Rahwana)”. Cerita ini bersetting pada Alengka Kingdom dan diawali dengan Rahwana yang terkejut dengan berita kematian Kumbakarna. Melihat ini Indrajit menemui Rahwana untuk menceritakan kepada Rahwana bahwa dia dan kedua saudara laki-lakinya yakni Tisirah dan Trinita akan balas dendam kepada Rama. Begitu Indrajit sampai ke medan perang, Laksamana menemuinya. Dalam peperangan, Laksamana berhasil membunuuh Indrajit dan memotong kepalanya. Meski memiliki kekuatan yang besar, Rahwana tidak dapat melawan Rama. Dia dibunuh oleh Rama yang memenggal kepalanya dengan Gwawijaya senjata mematikannya. Dengan kematian Rahwana, dunia dibebaskan dari kekuatan jahat.
Pertunjukan wayang bukan hanya sekedar tontonan, tetapi juga tuntunan. Banyak orang, terutama bangsa Barat menganggap pertunjukan wayang kulit sebagai shadow play atau sebuah permainan dengan bayang-bayang. Padahal lebih dari itu, wayang memberikan gambaran lakon perihal kehidupan manusia dan bagaimana cara mereka mengatasinya yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan juga nilai etik dan estetika.  Nilai etik ialah nilai tentang baik atau buruknya tingkah laku seseorang. Etik atau etika (ethice) merupakan filsafat tingkah laku yang di dalamnya memuat penilaian terhadap tindakan apakah dikatakan baik  atau buruk berdasarkan ukuran-ukuran tertentu. Sedangkan nilai estetik ialah nilai tentang keindahan. Estetika (estetis) merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan seni (art) dan keindahan (beauty).
Nilai etik dari pertunjukan wayang dapat diliat dari dari cerita dan tokoh-tokohnya. Cerita pertunjukan wayang yang berjudul “The Death of Rahwana” ini mengandung nilai etik untuk saling membantu dan membela saudara yang sedang mengalami kesulitan sampai titik darah penghabisan. Selain itu, nilai-nilai etik juga dapat dilihat dari tokoh-tokohnya seperti Kumbakarna atau yang sering disebut sebagai Arya Kumbakarna yang merupakan pendeta yang halus budi pekertinya, sakti, dan termasyur karena keahliannya mengenai berbagai ilmu (Suhardi, dkk, 1994:47). Kumbakarna merupakan adik kandung dari Dasamuka (Rahwana) yang merupakan raja raksasa dari Negara Alengka. Kumbakarna secara fisik merupakan perwujudan raksasa yang sangat tinggi dan mengerikan, tetapi memiliki sifat yang perwira bahkan sering menasehati Dasamuka apabila keliru dalam melakukan sesuatu.  Dengan demikian, nilai-nilai yang bisa kita ambil dari Kumbakarna sebagai salah satu tokoh perwayangan ini ialah nilai-nilai kearifan, kasih sayang, dan ketekunan.
Sebagai sebuah pertunjukan, wayang memiliki nilai estetik yang begitu tinggi. Nilai estetika yang dapat diambil dari pertunjukan wayang diantaranya ialah pelaksana dan peralatan wayang. Sebagai karya seni, pagelaran wayang meliputi beberapa cabang kesenian yaitu seni teater, ukir, sastra, dan  musik. Dari unsur pelaksana, wayang terdiri dari dalang (sutradara), niyaga (pemain gamelan) dan pesinden (penyanyi wanita) atau gerong (kor penyanyi pria). Dari unsur peralatan, wayang terdiri dari wayang kulit, kelir, blencong (lampu tradisional), gedhebog (batang pisang), kothak, cempala (kayu pemukul kotak), kepyak (dari kuningan), dan gamelan. Sedang unsur pertunjukan yang bisa dilihat adalah sabetan (gerak wayang), dan  yang didengar meliputi (janturan), carios atau kandha, ginem (pocapan) suluk, tembang, dhodhogan, kepyakan, gendhing, gerong, sindhenan. (Seni Wayang Purwa, 2014)
Nilai estetika pada wayang di antaranya bisa dilihat dari seni ukir wayang itu sendiri. Saya sangat kagum dengan seni ukir yang ada pada wayang. Ukirannya begitu detail dan sangat indah sekali sehingga bisa mencerminkan karakter dari setiap tokoh. Selain dari seni ukir pada wayang, nilai estetika wayang dapat dilihat dari seni musiknya. Saya juga sangat terpesona sekali dengan musik yang mengiringi pertunjukan wayang. Musik yang dimainkan sangat cocok di setiap adegan-adegan yang dimainkan. Saya merasa di setiap adegan-adegan memiliki ciri musik tersendiri. Misalnya pada saat intro, musiknya bertempo lambat sampai sedang, kemudian ketika perkelahian berlangsung, musiknya menjadi sangat cepat dan sangat pas penekanan-penekannya. Selain itu, saya salut kepada Bapak dalang yang sangat apik, lihai dan lincah dalam memainkan wayang. Bagaimana dalam satu waktu Bapak dalang tersebut bisa memainkan wayang di layar, kemudian mengganti wayang pada saat pergantian tokoh, memukul kotak wayang, dan  membacakan  narasi tanpa teks yang menurut saya narasi tersebut sudah ada di luar kepalanya. Sungguh, menurut saya dalang ialah salah satu seniman yang luar biasa.
Itulah nilai etik dan estetikadari pertunjukan wayang yang saya peroleh pada malam itu. Saya merasa bahwa Indonesia beruntung mempunyai karya seni yang bernilai tinggi seperti wayang ini. Saya juga kagum terhadap Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang tidak letih memainkan wayang di setiap malam demi terus melestarikan dan memperkenalkan karya seni asli Indonesia ini. Semoga kami para generasi muda tidak pernah lupa dan terus menjaga semua karya seni yang merupakan harta berharga bagi Indonesia.