Teman,
berikut ini adalah kisah nyata tentang keajaiban bersedekah yang dialami oleh
seorang siswi SMA. Namanya sebut saja Nita. Ia berasal dari keluarga yang
sangat sederhana. Ayahnya seorang kuli bangunan, sedangkan ibunya berjualan
makanan ringan. Ia bersekolah di sebuah SMA negeri di tempat tinggalnya. Ia
termasuk anak yang berprestasi di sekolah.
Pada
suatu hari, Nita sangat perlu uang. Ia ingin membeli selembar rok dan selembar
jilbab, hanya itu saja, sangat sederhana. Nita adalah anak yang baik, ia tidak
pernah ingin merepotkan kedua orang tuanya. Ia tahu orang tuanya sudah letih
mencari uang untuk biaya sekolah dirinya dan adik-adiknya. Oleh karena itu, ia
sangat tidak enak hati untuk meminta uang kepada ayah atau ibunya untuk hal
yang tidak begitu penting seperti membeli baju atau rok baru. Nita sangat
bingung, padahal ia sangat butuh uang untuk membeli keperluannya itu. Tiba-tiba
ia teringat nasihat gurunya. “Jual beli lah kalian dengan Allah, niscaya kalian
tidak akan rugi. Jika kalian sedang perlu uang, mintalah dengan yang Maha Kaya
lalu bersedekahlah di jalanNya. Allah akan membalasnya berlipat ganda. Ingatlah,
janji Allah selalu benar”.
Nita
pun mencoba mempraktekkan nasehat gurunya tersebut, dengan cepat Nita membuka
dompetnya. Ternyata uang yang ada di dompet Nita saat ini hanya tinggal lima
ribu rupiah, ia bingung. Uangnya hanya tinggal segitu, jika ia sedekahkan uang
lima ribu tersebut, maka ia tidak ada lagi memegang uang, sedangkan besok ia
juga butuh uang itu untuk ongkosnya pergi ke sekolah. Tapi Nita segera membuang
keraguan tersebut, ia percaya kepada Allah, Allah akan menggantinya.
Bersegeralah Nita pergi ke masjid dekat rumahnya dan menyedekahkan uang semata
wayangnya itu ke dalam celengan masjid, sambil bergumam “ya Allah, sungguh
Engkau Maha Kaya, hamba sedang perlu uang, Engkau pasti akan menggantinya”.
Nita pun tersenyum, tenang hati rasanya setelah bersedekah, ia pun pulang ke
rumah.
Beberapa
hari kemudian, dompet Nita masih kosong. Tapi ia tetap optimis, ia menjalani
harinya seperti biasa. Pada suatu malam, ketika Nita sedang membantu ibunya
membereskan dagangan, ada tamu yang datang dan
ternyata itu adalah teman ibu Nita yang sudah lama tidak bertemu. Ibu
Nita dan temanya sangat asyik mengobrol sedangkan Nita kembali sibuk dengan
pekerjaannya. Ketika Nita sedang menyapu, Nita di panggil oleh teman ibunya.
“Nita coba ke sini sebentar, nih tante ada rezeki untuk kamu, buat jajan ya”,
Nita hanya terdiam dan memandang ibunya, ibunya mengangguk dan artinya
mengizinkan Nita untuk menerima uang tersebut. Duhai, Nita senang bukan
kepalang. Ia teringat jual belinya dengan Allah kemarin, ternyata subhanallah,
Allah benar-benar menggantinya lewat tante itu, uang yang diterima Nita lima
puluh ribu rupiah, 10 kali lipat dari yang ia sedekahkan. “Alhamdulillah,
terimakasih banyak ya Allah” gumamnya. Ternyata kepercayaan Nita benar-benar
jadi kenyataan. Subhanallah.
Kisah
lainnya dari Nita. Pada saat itu, Nita dalam situasi yang sama. Ia butuh uang,
sangat butuh untuk membayar berbagai macam cicilan di kelasnya. Sedangkan Nita
lagi-lagi hanya mempunyai uang lima ribu di dompetnya. Ia bingung, jika di
bayarkan ke cicilan kelas, uang lima ribu itu juga tidak cukup. Orang tuanya
juga sedang tidak mempunyai uang, ia tahu itu. Ayahnya tidak dapat tawaran
untuk bekerja, sedangkan dagangan ibunya kurang laku akhir-akhir ini. “Ya
Allah, lagi-lagi hamba meminta tolong kepadaMu”, gumam Nita. Nita memutuskan
untuk menyedekahkan saja uang lima ribu yang ia punya. Sebenarnya ada rasa
pesimis di hati Nita, ia bertanya dalam hatinya “Ya Allah lewat mana lagi
engkau akan memberiku rezeki? Rasanya tidak ada jalan, teman ayah atau ibuku
tidak ada lagi yang akan datang ke rumah”, tapi sudahlah. Nita segera membuang
jauh fikiran itu.
Keesokan
harinya, ketika Nita sedang duduk-duduk di depan kantor guru bersama
teman-temannya. Tiba-tiba ada guru yang memanggilnya, Nita dipertemukan dengan
seorang mahasiswi dari salah satu PTN di daerahnya, kakak tersebut mewawancarai
Nita mengenai segala prestasi Nita yang sudah di raihnya selama ia berada di
SMA. Kemudian Nita menceritakan kepada kakak tersebut, akhirnya kakak tersebut
meminta Nita untuk menuliskan nomor Handhphonenya sambil berkata “Nita,
sebenarnya kakak ini Host dari acara Bintang Pelajar yang acaranya ada di
stasiun TV khusus daerah kita, kakak lagi mau mencari bintang tamunya. Nah,
kalau kamu bintang tamunya mau kan?”. Nita hanya terdiam, ia menjawab “jangan
kak, prestasi saya baru sedikit, gak pantas kak, ada yang lebih hebat lagi,
teman saya namanya Wati, ia pemenang olimpiade Matematika”. “Ah, gak apa-apa
kok. Temen kamu ada juga ya? kalau gitu tolong tuliskan nomor Handhphonenya
juga ya”, jawab mahasiswi itu. Nita pun langsung menuliskan nomor Handhphone
temannya. “Ya sudah, kakak pamit ya, kalau jadi nanti kakak sms kamu”, ucap
mahasiswi tersebut sambil meninggalkan Nita. Sebenarnya Nita sangat berharap
kalau ia dibatalkan untuk menjadi bintang tamu di acara tersebut. Nita sangat
takut untuk tampil di depan Televisi dan ditonton oleh orang banyak, apalagi
ditonton oleh guru-gurunya. Ia juga merasa sangat tidak pantas berada di acara
itu. Ia berkata dalam hatinya “ya Allah, jika ini memang baik untukku maka
biarkanlah ini terjadi, tetapi jika tidak, tolong batalkan ya Allah”.
Keesokan
harinya, Nita mendapat sms dari kakak mahasiswi itu. Dan ternyata isinya smsnya
mengatakan bahwa Nita diminta untuk menjadi bintang tamu di acara Bintang
Pelajar tersebut. Nita lemas seketika, acaranya sore hari ini dan berarti Nita
harus pergi ke studio tempat wawancara tersebut di langsungkan. Kabar Nita
untuk masuk TV tersebut ternyata diketahui oleh guru-guru yang ada di sekolah
Nita. Padahal Nita sekuat tenaga untuk menyembunyikannya. Sungguh, Nita tidak
ingin ia dilihat oleh orang-orang di TV, ia sangat malu.
Kemudian,
tibalah Nita di tempat wawancara tersebut. Ia langsung di ajak ke sebuah
ruangan yang sangat nyaman lagi indah, dan disana ada dua kursi. “Agaknya dua
kursi itu untuk aku dan kakak mahasiswi kemarin”, fikir Nita. “Hai Nita, apa
kabar? Sudah siap? Jangan lupa sms teman-temannya untuk nonton yah”, ucap
mahasiswi itu dengan ramah. “Alhamdulillah baik kak, iya-iya”, jawab Nita
dengan senyum yang agak dipaksakan. Lima menit lagi acara dimulai, Nita mulai
deg-degan, acara berlangsung satu jam, itu membuat keringat dingin Nita keluar.
Acara pun dimulai, kakak mahasiswi tersebut mulai membuka wawancara. Nita
sangat hati-hati dalam menjawab pertanyaan, ia takut salah menjawab.
Tak
terasa, acara itupun selesai. Nita sangat bersyukur. Ia tak tahu apa pendapat
guru-guru dan teman-temannya. Kemudian Nita membuka Handhphonenya dan ia
mendapatkan sms dari salah satu temannya yang mengatakan bahwa di rumah mereka
mati lampu sehingga mereka tidak ada yang menonton. Senang bukan kepalang Nita
mendapatkan kabar tersebut, ternyata di rumah-rumah guru Nita juga mati lampu.
Jadi akhirnya, hanya beberapa saja yang menonton Nita di TV. Nita sangat
bersyukur, karena menurut dirinya ia sangat tidak pantas untuk masuk TV.
Nita
pun hendak pulang, tapi tiba-tiba ia di
panggil oleh salah satu crew acara tersebut. Nita pun kembali, dan ternyata
Nita disuruh menandatangani selembar pernyataan yang isinya Nita dibayar
seratus dua puluh ribu rupiah karena telah menjadi bintang tamu di acara
Bintang Pelajar. Nita benar-benar tidak menyangka. Ia tidak pernah berfikir
akan dikasih imbalan berupa uang karena telah menjadi bintang tamu. Nita langsung
berucap dalam hatinya, “ya Allah, ternyata ini rencanaMu. Engkau izinkan aku
untuk mengisi acara ini dan Engkau matikan lampu di rumah teman-teman dan
guruku agar mereka tidak bisa menonton sesuai permintaanku, seolah-olah karena memang
Engkau hanya ingin memberikan rezeki untukku, terimakasih banyak ya Allah”.
Nita pun pulang dengan hati yang berbunga-bunga, dan artinya besok Nita sudah
bisa membayar cicilan di kelasnya. Alhamdulillah.
Luar
biasa teman, sungguh rapi rencana Allah untuk membalas perbuatan baik hambaNya.
Termasuk bersedekah. Subhanallah. Semoga kita bisa meneladani peristiwa ini.