Selasa, 05 September 2017

Lima Ribu Rupiah yang Membawa Berkah



Teman, berikut ini adalah kisah nyata tentang keajaiban bersedekah yang dialami oleh seorang siswi SMA. Namanya sebut saja Nita. Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya seorang kuli bangunan, sedangkan ibunya berjualan makanan ringan. Ia bersekolah di sebuah SMA negeri di tempat tinggalnya. Ia termasuk anak yang berprestasi di sekolah.
Pada suatu hari, Nita sangat perlu uang. Ia ingin membeli selembar rok dan selembar jilbab, hanya itu saja, sangat sederhana. Nita adalah anak yang baik, ia tidak pernah ingin merepotkan kedua orang tuanya. Ia tahu orang tuanya sudah letih mencari uang untuk biaya sekolah dirinya dan adik-adiknya. Oleh karena itu, ia sangat tidak enak hati untuk meminta uang kepada ayah atau ibunya untuk hal yang tidak begitu penting seperti membeli baju atau rok baru. Nita sangat bingung, padahal ia sangat butuh uang untuk membeli keperluannya itu. Tiba-tiba ia teringat nasihat gurunya. “Jual beli lah kalian dengan Allah, niscaya kalian tidak akan rugi. Jika kalian sedang perlu uang, mintalah dengan yang Maha Kaya lalu bersedekahlah di jalanNya. Allah akan membalasnya berlipat ganda. Ingatlah, janji Allah selalu benar”.
Nita pun mencoba mempraktekkan nasehat gurunya tersebut, dengan cepat Nita membuka dompetnya. Ternyata uang yang ada di dompet Nita saat ini hanya tinggal lima ribu rupiah, ia bingung. Uangnya hanya tinggal segitu, jika ia sedekahkan uang lima ribu tersebut, maka ia tidak ada lagi memegang uang, sedangkan besok ia juga butuh uang itu untuk ongkosnya pergi ke sekolah. Tapi Nita segera membuang keraguan tersebut, ia percaya kepada Allah, Allah akan menggantinya. Bersegeralah Nita pergi ke masjid dekat rumahnya dan menyedekahkan uang semata wayangnya itu ke dalam celengan masjid, sambil bergumam “ya Allah, sungguh Engkau Maha Kaya, hamba sedang perlu uang, Engkau pasti akan menggantinya”. Nita pun tersenyum, tenang hati rasanya setelah bersedekah, ia pun pulang ke rumah.
Beberapa hari kemudian, dompet Nita masih kosong. Tapi ia tetap optimis, ia menjalani harinya seperti biasa. Pada suatu malam, ketika Nita sedang membantu ibunya membereskan dagangan, ada tamu yang datang dan  ternyata itu adalah teman ibu Nita yang sudah lama tidak bertemu. Ibu Nita dan temanya sangat asyik mengobrol sedangkan Nita kembali sibuk dengan pekerjaannya. Ketika Nita sedang menyapu, Nita di panggil oleh teman ibunya. “Nita coba ke sini sebentar, nih tante ada rezeki untuk kamu, buat jajan ya”, Nita hanya terdiam dan memandang ibunya, ibunya mengangguk dan artinya mengizinkan Nita untuk menerima uang tersebut. Duhai, Nita senang bukan kepalang. Ia teringat jual belinya dengan Allah kemarin, ternyata subhanallah, Allah benar-benar menggantinya lewat tante itu, uang yang diterima Nita lima puluh ribu rupiah, 10 kali lipat dari yang ia sedekahkan. “Alhamdulillah, terimakasih banyak ya Allah” gumamnya. Ternyata kepercayaan Nita benar-benar jadi kenyataan. Subhanallah.
Kisah lainnya dari Nita. Pada saat itu, Nita dalam situasi yang sama. Ia butuh uang, sangat butuh untuk membayar berbagai macam cicilan di kelasnya. Sedangkan Nita lagi-lagi hanya mempunyai uang lima ribu di dompetnya. Ia bingung, jika di bayarkan ke cicilan kelas, uang lima ribu itu juga tidak cukup. Orang tuanya juga sedang tidak mempunyai uang, ia tahu itu. Ayahnya tidak dapat tawaran untuk bekerja, sedangkan dagangan ibunya kurang laku akhir-akhir ini. “Ya Allah, lagi-lagi hamba meminta tolong kepadaMu”, gumam Nita. Nita memutuskan untuk menyedekahkan saja uang lima ribu yang ia punya. Sebenarnya ada rasa pesimis di hati Nita, ia bertanya dalam hatinya “Ya Allah lewat mana lagi engkau akan memberiku rezeki? Rasanya tidak ada jalan, teman ayah atau ibuku tidak ada lagi yang akan datang ke rumah”, tapi sudahlah. Nita segera membuang jauh fikiran itu.
Keesokan harinya, ketika Nita sedang duduk-duduk di depan kantor guru bersama teman-temannya. Tiba-tiba ada guru yang memanggilnya, Nita dipertemukan dengan seorang mahasiswi dari salah satu PTN di daerahnya, kakak tersebut mewawancarai Nita mengenai segala prestasi Nita yang sudah di raihnya selama ia berada di SMA. Kemudian Nita menceritakan kepada kakak tersebut, akhirnya kakak tersebut meminta Nita untuk menuliskan nomor Handhphonenya sambil berkata “Nita, sebenarnya kakak ini Host dari acara Bintang Pelajar yang acaranya ada di stasiun TV khusus daerah kita, kakak lagi mau mencari bintang tamunya. Nah, kalau kamu bintang tamunya mau kan?”. Nita hanya terdiam, ia menjawab “jangan kak, prestasi saya baru sedikit, gak pantas kak, ada yang lebih hebat lagi, teman saya namanya Wati, ia pemenang olimpiade Matematika”. “Ah, gak apa-apa kok. Temen kamu ada juga ya? kalau gitu tolong tuliskan nomor Handhphonenya juga ya”, jawab mahasiswi itu. Nita pun langsung menuliskan nomor Handhphone temannya. “Ya sudah, kakak pamit ya, kalau jadi nanti kakak sms kamu”, ucap mahasiswi tersebut sambil meninggalkan Nita. Sebenarnya Nita sangat berharap kalau ia dibatalkan untuk menjadi bintang tamu di acara tersebut. Nita sangat takut untuk tampil di depan Televisi dan ditonton oleh orang banyak, apalagi ditonton oleh guru-gurunya. Ia juga merasa sangat tidak pantas berada di acara itu. Ia berkata dalam hatinya “ya Allah, jika ini memang baik untukku maka biarkanlah ini terjadi, tetapi jika tidak, tolong batalkan ya Allah”.
Keesokan harinya, Nita mendapat sms dari kakak mahasiswi itu. Dan ternyata isinya smsnya mengatakan bahwa Nita diminta untuk menjadi bintang tamu di acara Bintang Pelajar tersebut. Nita lemas seketika, acaranya sore hari ini dan berarti Nita harus pergi ke studio tempat wawancara tersebut di langsungkan. Kabar Nita untuk masuk TV tersebut ternyata diketahui oleh guru-guru yang ada di sekolah Nita. Padahal Nita sekuat tenaga untuk menyembunyikannya. Sungguh, Nita tidak ingin ia dilihat oleh orang-orang di TV, ia sangat malu.
Kemudian, tibalah Nita di tempat wawancara tersebut. Ia langsung di ajak ke sebuah ruangan yang sangat nyaman lagi indah, dan disana ada dua kursi. “Agaknya dua kursi itu untuk aku dan kakak mahasiswi kemarin”, fikir Nita. “Hai Nita, apa kabar? Sudah siap? Jangan lupa sms teman-temannya untuk nonton yah”, ucap mahasiswi itu dengan ramah. “Alhamdulillah baik kak, iya-iya”, jawab Nita dengan senyum yang agak dipaksakan. Lima menit lagi acara dimulai, Nita mulai deg-degan, acara berlangsung satu jam, itu membuat keringat dingin Nita keluar. Acara pun dimulai, kakak mahasiswi tersebut mulai membuka wawancara. Nita sangat hati-hati dalam menjawab pertanyaan, ia takut salah menjawab.
Tak terasa, acara itupun selesai. Nita sangat bersyukur. Ia tak tahu apa pendapat guru-guru dan teman-temannya. Kemudian Nita membuka Handhphonenya dan ia mendapatkan sms dari salah satu temannya yang mengatakan bahwa di rumah mereka mati lampu sehingga mereka tidak ada yang menonton. Senang bukan kepalang Nita mendapatkan kabar tersebut, ternyata di rumah-rumah guru Nita juga mati lampu. Jadi akhirnya, hanya beberapa saja yang menonton Nita di TV. Nita sangat bersyukur, karena menurut dirinya ia sangat tidak pantas untuk masuk TV.
Nita pun hendak pulang, tapi tiba-tiba  ia di panggil oleh salah satu crew acara tersebut. Nita pun kembali, dan ternyata Nita disuruh menandatangani selembar pernyataan yang isinya Nita dibayar seratus dua puluh ribu rupiah karena telah menjadi bintang tamu di acara Bintang Pelajar. Nita benar-benar tidak menyangka. Ia tidak pernah berfikir akan dikasih imbalan berupa uang karena telah menjadi bintang tamu. Nita langsung berucap dalam hatinya, “ya Allah, ternyata ini rencanaMu. Engkau izinkan aku untuk mengisi acara ini dan Engkau matikan lampu di rumah teman-teman dan guruku agar mereka tidak bisa menonton sesuai permintaanku, seolah-olah karena memang Engkau hanya ingin memberikan rezeki untukku, terimakasih banyak ya Allah”. Nita pun pulang dengan hati yang berbunga-bunga, dan artinya besok Nita sudah bisa membayar cicilan di kelasnya. Alhamdulillah.
Luar biasa teman, sungguh rapi rencana Allah untuk membalas perbuatan baik hambaNya. Termasuk bersedekah. Subhanallah. Semoga kita bisa meneladani peristiwa ini.