Selasa, 17 Oktober 2017

Refleksi Pertemuan IV Filsafat Ilmu : Time Line Kehidupan



Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017


Selasa tanggal 10 Oktober 2017 merupakan pertemuan keempat saya dan teman-teman-teman S2 Pendidikan Matematika A 2017 dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A dalam mata kuliah Filsafat Ilmu. Pertemuan pada hari ini berbeda dari pertemuan biasanya. Jika pada pertemuan biasanya kami duduk melingkar untuk saling berdiskusi, maka pada hari ini kami sebagai audience dan Bapak sebagai keynote speakernya. Gambar di atas menggambarkan apa yang Prof. Marsigit jelaskan kepada kami dalam pertemuan keempat mata kuliah filsafat ilmu ini.
  Pada mulanya, Bapak menggambarkan sebuah garis yang bergelombang yang memiliki awal dan akhir. Namun ketika di akhir, garis tersebut menurun yang dianalogikan sebagai lautan seperti gambar di bawah ini :




Jadi menurut Bapak kita dianalogikan sebagai ikan-ikan yang ada di lautan yang sedang berjuang kesana-kemari untuk mencari air yang jernih karena dalam perjalanannya air yang sudah sampai di lautan tersebut sudah tercemar oleh pengaruh-pengaruh dalam perkembangan sejarah.
              Sekarang ini, sebenar-benar hidup adalah bahasa karena filsafatnya filsafat bahasa. Sebenar-benarnya diri kita adalah bahasa kita, tulisan kita, dan kata-kata kita. Sebenar-benar pikiran pun adalah bahasa, wujudnya dalam karya ilmiah seperti thesis dan disertasi.
              Pikiran itu bersifat monoisme (tunggal) jika berada di dalam pikiran yang dinamakan kuasa Tuhan. Pikiran bersifat pluralisme (banyak) jika di dunia nyata. Jadi misalnya, saya yang di dalam pikiran itu hanya satu yaitu Gina. Tetapi jika di dunia nyata, saya itu banyak, yakni Gina yang sedang belajar, Gina yang sedang duduk, Gina yang sedang makan, dan tak terhingga banyaknya. Filsafat itu hanya ada dua perkara saja, yang pertama yang ada di dalam pikiran itu bagaimana bisa dijelaskan dan yang kedua yang ada di luar pikiran itu bagaimana kita mampu memahaminya. Dari awal hingga akhir zaman sekarang ini, tidak ada yang dapat menggapai hal tersebut. Sehingga Socrates mengatakan bahwa sebenar-benar diri kita tidak mengetahui apapun.
              Suatu objek jika di dalam pikiran bersifat identitas sedangkan ketika di dunia nyata bersifat kontradiksi. Identitas maksudnya A = A dan kontradiksi maksudnya A ≠ A. A ≠ A maksudnya sebenar-benar diriku (apalagi orang lain) tidak mampu menunjuk siapa diriku, sebab ketika aku belum selesai menunjuk, aku sudah ganti dari tadi menjadi nanti karena terikat oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu ada di dalam kenyataan, tetapi dalam idealnya tidak ada ruang dan waktu. Sehingga Tuhan tidak terikat ruang dan waktu. Ditekankan lagi bahwa sebenar-benarnya diriku bersifat kontradiksi jika dalam kenyataan (2 ≠ 2). Tetapi sebenar-benarnya diriku dalam pikiran bersifat identitas (2 = 2). 2 ≠ 2 maksudnya peduli ruang dan waktu. Dua kiri berbeda dengan dua kanan, misalkan 2 kiri kurus sedangkan 2 kanan gendut. Dua sama dengan dua hanya ada di dalam pikiran, makanya matematika bersifat abstrak. Sehingga matematika di kenyataan harus bersifat konkret (nyata) yang penerapannya dalam mengajarkan matematika kepada anak SD. Jangan sampai ketika menerangkan matematika kepada anak SD kita menggunakan hal-hal yang abstrak, karena secerdas-cerdas kita adalah mampu menyesuaikan sesuatu dengan ruang dan waktunya.
              Ada yang namanya absolutisme (wajib). Sebenar-benar wajib manusia adalah wajib relative, kecuali kita merujuk pada wajib absolutisme dari ayat-ayat-Nya. Ini yang namanya realisme. Dalam filsafat, di dalam pikiran ada platonisme sedangkan di kenyataan ada Aristotel. Sebenar-benar ilmu menurut Plato adalah pikiran. Menurut Aristotel sebenar-benar ilmu adalah kenyataan. Ilmu menurut Plato ini untuk orang dewasa ke atas sedangkan ilmu menurut Aristotel untuk anak-anak, meskipun orang dewasa juga mengalami kenyataan.
              Logika yang ada di dalam pikiran bersifat analitik sedangkan kenyataan bersifat sintetik. Oleh karena itu orang matematika berpegang pada  jargon yang penting logis. Matematika murni yang penuh definisi ada di dalam pikiran sedangkan hidup 90% penuh dengan intuisi. Bahaya jika mengajar matematika pada anak menggunakan definisi. Ciri dari intuisi kapan datangnya lupa, yang penting ngerti. Konsep bilangan 1 bagi anak kecil adalah intuisi. Sehingga ajarkan bilangan kepada anak kecil berdasarkan kehidupan nyata. Analitik tidak perlu melihat kenyataannya, yang penting logis. Sehingga metamatika murni tidek perlu kenyataan.Sehingga menurut Immanuel Kant itu belum berilmu. Sebenar-benar ilmu menurut Immanuel Kant bersifat sintetik apriori. Aposteriori sejalan dengan sintetik, yakni paham setelah melihat atau mengalami. Sedangkan apriori sejalan dengan logika, yakni walaupun belum ada kenyataanya bisa memikirkan. Aposteriori dunianya anak kecil, di bawah anak kecil dunia binatang. Dunia anak kecil adalah dunia aposteriori. Matematikanya juga matematika aposteriori. Matematikanya konkret. Inilah sebab Immanuel Kant memilih sintetik apriori, ia menggabungkan antara matematika apriori dan matematika sintetik.
              Gambar di atas juga memperlihatkan ada yang namanya dearah di atas garis juga daerah dibawah garis. Daerah di atas garis kita sebut sebagai langit dan daerah di bawah garis disebut dunia. Di atas yakni langit ialah sebenar-benar prinsip. Dibawah garis adalah buminya atau dunianya, inilah sebenar-benarnya bayangan. Jadi anak-anak itu bayangan orang tua, jika kita menyalahkan anak-anak, maka sebenar-benarnya itu kembali lagi kepada orang tuanya. Sebenar-benar prinsip adalah monoisme, absolut, tidak bisa diganggu gugat. Apa yang kita kerjakan merupakan bayang-bayang dari Tuhan. Prinsip hanya ada dua yaitu identitas dan kontradiksi. Identitas adalah pikiran atau kuasa Tuhan dan kontradiksi adalah kenyataan. Prinsip itu konsisten, misalnya kitab suci tidak bisa diubah-ubah.Tiadalah ilmu bagi anak kecil selain aktivitas. Sebenar-benar matematika untuk anak-anak adalah kegiatan.
              Setelah tahun 1671, filsafat sudah masuk zaman modern. Sedangkan sekarang, sudah masuk zaman post modern atau disebut sebagai power now atau zaman kontenporer. Filsafat kontenporer adalah filsafat bahasa. Kemudian metafisik, mulai belajar dibalik pikiran orang itu apa yang terjadi. Kemudian saintifisme dan muncul fenomena Comte. Menurut Comte, Agama itu tidak logis dan  tidak berguna jika ingin membangun dunia (saat itu Islam belum muncul). Sehingga Comte meletakan saintific pada urutan pertama, kemudian filsafat, dan terakhir agama. Jadi sebenarnya, metode saintifik itu dikemukakan oleh August Comte yang dia meminggirkan agama. Demikian sampai sekarang mucul dunia power now kontenporer yaitu mulai dari bawah archaic, tribal, tradisional, feodal, modern, post modern. Agama terletak di tradisional. Sehingga Handphone sekarang tidak ada unsur agamanya karena letak agama paling tinggi hanya ada di tradisional. Dan sedihnya, sebenar-benar fenomena Comte sekarang ada di dalam diri kita masing-masing. Oleh karena itu, kita harus tetap memegang teguh prinsip agama kita walaupun kebudayaan asing silih berganti masuk mempengaruhi. Memegang teguh agama akan membuat kita tidak selamanya terjebak dalam air laut yang keruh sehingga suatu saat nanti kita dapat keluar dan menemukan jernihnya kehidupan. Inilah time line kehidupan ditinjau dari filsafat yang kami dapatkan dari kuliah bersama Prof. Marsigit. Jika ada yang kurang saya mohon maaf. Semoga tulisan ini dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca sekalian. Terimakasih.
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar