17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017
Berikut ini ialah
refleksi pertemuan VII mata kuliah filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit. Pada
pertemuan VII ini, seperti biasa kami diberikan test jawab singkat oleh
Profesor kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai semua yang ada dan
mungkin ada ditinjau dari filsafat. Semua yang ada dan mungkin ada dapat
dijelaskan oleh filsafat melalui proses pikir dan refleksi, termasuk mengenai
pendidikan matematika.
Pada proses pendidikan, perlu diperhatikan tingkat
perkembangan seorang siswa. Periode perkembangan intelektual anak menurut
Piaget ialah sebagai berikut :
1. Periode
sensori-motor (0 - 2 tahun)
2. Periode pra-operasioanl (2 - 7 tahun)
3. Periode operasional konkret (7 - 11 tahun)
4. Periode operasional formal (11 - dewasa)
2. Periode pra-operasioanl (2 - 7 tahun)
3. Periode operasional konkret (7 - 11 tahun)
4. Periode operasional formal (11 - dewasa)
Pada tahap sensori motor, anak mengenali lingkungan dengan kemampuan
sensorik dan motorik. Pada tahap pra-operasional, anak mengandalkan diri pada
persepsi tentang realitas. Pada tahap operasi konkret, anak dapat mengembangkan
pikiran logis walaupun kadang-kadang memecahkan masalah secara trial and error.
Pada tahap operasional formal, anak dapat berfikir abstrak seperti pada orang
dewasa. Dengan berlandaskan pada teori ini, sebaiknya para pandidik
menyesuaikan proses belajar mengajar dengan teori periode perkembangan kognitif
siswa ini agar proses pembelajaran di kelas dapat terlaksana dengan baik dan
siswa dapat memahami materi pelajaran sesuai dengan kemampuannya.
Menurut Piaget, teori perkembangan kognitif siswa
ialah proses dimana siswa mengkonstruk pengetahuannya sendiri di dalam
pikirannya. Dengan kata lain, ada proses kognitif yang terjadi di dalam diri
siswa ketika mereka mempelajari sesuatu. Sedangkan Vygotsky mengatakan bahwa
teori perkembangan kognitif siswa merupakan gabungan antara proses kognitif
yang terjadi di dalam diri siswa serta interaksinya dengan lingkungannya.
Dengan demikian, proses belajar yang dilakukan siswa melibatkan proses kognitif
di dalam dirinya dan lingkungannya. Sehingga, proses belajar yang dilakukan
sebaiknya memaksimalkan proses kognitif siswa dan mengkondusifkan lingkungan
belajar siswa.
Menurut Vygotsky, organisasi pembelajaran yang
tepat adalah faktor kunci dalam proses pedagogik. Dua hal dalam proses belajar
mengajar dari teori belajar Vygotsky adalah zone of proximal development (ZPD)
dan scaffolding. ZPD merupakan zona antara tingkat perkembangan aktual dan
tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual ialah kemampuan
anak untuk menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri. Sedangkan tingkat
perkembangan potensial ialah kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas atau
memecahkan masalah dengan bantuan orang dewasa. Scaffolding merupakan proses
memberikan sejumlah bantuan dalam tahap awal pembelajaran, kemudian baru
melepaskan anak untuk mempunyai tanggung jawab sendiri dalam proses belajarnya
setelah ia menguasai bahan yang dipelajari. Dengan demikian, hal yang penting
bagi guru untuk memberikan bantuan kepada siswa ketika ia masih belum menguasai
apa yang dipelajari. Sehingga menurut saya, perlu melakukan sebuah penelitian
mengenai bantuan-bantuan apa saja yang dapat diberikan kepada siswa untuk
menunjang proses pembelajaran dengan baik.
Mathematics
education juga dapat dikatakan sebagai matematika sekolah karena matematika
ini untuk siswa di sekolah dasar sampai sekolah menengah. Hakikat matematika
sekolah diantaranya ialah mengeksplorasi relasi atau hubungan, matematika
adalah problem solving, matematika adalah komunikasi, dan matematika adalah
investigasi. Keempat hal ini dapat menjadi landasan bagi kita yang mengajar di
sekolah agar matematika dapat tersampaikan dengan baik ke siswa. Hal ini
mempertegas bahwa seyogyanya matematika sekolah diajarkan tidak dengan definisi
dan teorema tetapi lebih kepada menginvestigasi dan mengeksplorasi kehidupan
nyata menjadi ilmu matematika.
Pada matematika sekolah, matematika menampakan
dirinya sebagai architectonic mathematics. Artinya, siswalah yang menjadi
arsitek untuk membangun matematika di dalam pikirannya. Architectonic
mathematics berarti siswa layaknya seorang arsitek yang membangun pengetahuan
matematika di dalam pikirannya sendiri dengan mengeksplorasi dan
menginvestigasi (mengamati). Sehingga selayaknya siswa melalukan kegiatan
pembelajaran matematika melalui kegiatan-kegiatan seperti diskusi, menulis,
mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, dan memberi
kritik atau masukkan.
Semakin kedepan, semakin canggih teknologi, semakin
besar dilema, dan akan semakin besar pula kontradiksi. Oleh karena itu, kita
sebagai calon pendidik hendaknya dapat memperhatikan dan memahami perkembangan
siswa agar dapat melakukan proses pembelajaran yang lebih baik berdasarkan teori-teori yang ada.
Kemudian, pikirkanlah apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang difikirkan. Janganlah
kita merasa sombong dan tidak percaya pada Tuhan layaknya teori Positivisme
dari August Comte yang mengatakan bahwa saintis itu di atas segala-galanya dan
menolak adanya keberadaan kekuasaan Tuhan. Berusahalah di atas doa. Jadilah
diri sendiri, maka akan kita nikmati indahnya hidup ini.