Sabtu, 23 Desember 2017

Refleksi Pertemuan VII Filsafat Ilmu : Mathematics Education

Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017

            Berikut ini ialah refleksi pertemuan VII mata kuliah filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit. Pada pertemuan VII ini, seperti biasa kami diberikan test jawab singkat oleh Profesor kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai semua yang ada dan mungkin ada ditinjau dari filsafat. Semua yang ada dan mungkin ada dapat dijelaskan oleh filsafat melalui proses pikir dan refleksi, termasuk mengenai pendidikan matematika.
Pada proses pendidikan, perlu diperhatikan tingkat perkembangan seorang siswa. Periode perkembangan intelektual anak menurut Piaget ialah sebagai berikut :
1. Periode sensori-motor (0 - 2 tahun)
2. Periode pra-operasioanl (2 - 7 tahun)
3. Periode operasional konkret (7 - 11 tahun)
4. Periode operasional formal (11 - dewasa)
Pada tahap sensori motor, anak mengenali lingkungan dengan kemampuan sensorik dan motorik. Pada tahap pra-operasional, anak mengandalkan diri pada persepsi tentang realitas. Pada tahap operasi konkret, anak dapat mengembangkan pikiran logis walaupun kadang-kadang memecahkan masalah secara trial and error. Pada tahap operasional formal, anak dapat berfikir abstrak seperti pada orang dewasa. Dengan berlandaskan pada teori ini, sebaiknya para pandidik menyesuaikan proses belajar mengajar dengan teori periode perkembangan kognitif siswa ini agar proses pembelajaran di kelas dapat terlaksana dengan baik dan siswa dapat memahami materi pelajaran sesuai dengan kemampuannya.
Menurut Piaget, teori perkembangan kognitif siswa ialah proses dimana siswa mengkonstruk pengetahuannya sendiri di dalam pikirannya. Dengan kata lain, ada proses kognitif yang terjadi di dalam diri siswa ketika mereka mempelajari sesuatu. Sedangkan Vygotsky mengatakan bahwa teori perkembangan kognitif siswa merupakan gabungan antara proses kognitif yang terjadi di dalam diri siswa serta interaksinya dengan lingkungannya. Dengan demikian, proses belajar yang dilakukan siswa melibatkan proses kognitif di dalam dirinya dan lingkungannya. Sehingga, proses belajar yang dilakukan sebaiknya memaksimalkan proses kognitif siswa dan mengkondusifkan lingkungan belajar siswa.
Menurut Vygotsky, organisasi pembelajaran yang tepat adalah faktor kunci dalam proses pedagogik. Dua hal dalam proses belajar mengajar dari teori belajar Vygotsky adalah zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding. ZPD merupakan zona antara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual ialah kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri. Sedangkan tingkat perkembangan potensial ialah kemampuan anak untuk menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah dengan bantuan orang dewasa. Scaffolding merupakan proses memberikan sejumlah bantuan dalam tahap awal pembelajaran, kemudian baru melepaskan anak untuk mempunyai tanggung jawab sendiri dalam proses belajarnya setelah ia menguasai bahan yang dipelajari. Dengan demikian, hal yang penting bagi guru untuk memberikan bantuan kepada siswa ketika ia masih belum menguasai apa yang dipelajari. Sehingga menurut saya, perlu melakukan sebuah penelitian mengenai bantuan-bantuan apa saja yang dapat diberikan kepada siswa untuk menunjang proses pembelajaran dengan baik.
Mathematics education juga dapat dikatakan sebagai matematika sekolah karena matematika ini untuk siswa di sekolah dasar sampai sekolah menengah. Hakikat matematika sekolah diantaranya ialah mengeksplorasi relasi atau hubungan, matematika adalah problem solving, matematika adalah komunikasi, dan matematika adalah investigasi. Keempat hal ini dapat menjadi landasan bagi kita yang mengajar di sekolah agar matematika dapat tersampaikan dengan baik ke siswa. Hal ini mempertegas bahwa seyogyanya matematika sekolah diajarkan tidak dengan definisi dan teorema tetapi lebih kepada menginvestigasi dan mengeksplorasi kehidupan nyata menjadi ilmu matematika.
Pada matematika sekolah, matematika menampakan dirinya sebagai architectonic mathematics. Artinya, siswalah yang menjadi arsitek untuk membangun matematika di dalam pikirannya. Architectonic mathematics berarti siswa layaknya seorang arsitek yang membangun pengetahuan matematika di dalam pikirannya sendiri dengan mengeksplorasi dan menginvestigasi (mengamati). Sehingga selayaknya siswa melalukan kegiatan pembelajaran matematika melalui kegiatan-kegiatan seperti diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, dan memberi kritik atau masukkan.
Semakin kedepan, semakin canggih teknologi, semakin besar dilema, dan akan semakin besar pula kontradiksi. Oleh karena itu, kita sebagai calon pendidik hendaknya dapat memperhatikan dan memahami perkembangan siswa agar dapat melakukan proses pembelajaran yang lebih  baik berdasarkan teori-teori yang ada. Kemudian, pikirkanlah apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang difikirkan. Janganlah kita merasa sombong dan tidak percaya pada Tuhan layaknya teori Positivisme dari August Comte yang mengatakan bahwa saintis itu di atas segala-galanya dan menolak adanya keberadaan kekuasaan Tuhan. Berusahalah di atas doa. Jadilah diri sendiri, maka akan kita nikmati indahnya hidup ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar