Sabtu, 23 Desember 2017

Refleksi Pertemuan IX dan X Filsafat Ilmu : Hermeneutika Pembelajaran Matematika

Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017

Perkuliahan filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit pada hari selasa tanggal 28 November 2017 diisi dengan penyajian hasil presentasi beliau di Chiang Mai tentang The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Reflection Prior to Lesson Study Activities.
Hermeneutika merupakan sebuah proses untuk menafsirkan, menginterpretasikan, dan memahami sesuatu. Di dalam hermeneutika terdapat dua unsur dasar yaitu lurus dan melingkar.  Lurus karena kita tidak akan bisa mengulangi hal yang sama. Melingkar karena kita melakukan interaksi. Hermeneutika ini juga dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menerjemahkan hal apapun. Oleh karena itu, hermeneutika dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan. Melalui hermeneutika dalam proses pembelajaran matematika, diharapkan siswa dapat memahami matematika dan mengeksplor potensi kecerdasan matematikanya lebih mendalam sehingga siswa dapat mandiri dalam menyelesaikan suatu permasalahan matematika.
Iceberg Approach merupakan gambaran gunung es matematika realistik sebagai salah satu pendekatan untuk berhermeneutika dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika realistik (RME) tidak lepas dari sosok seorang ahli matematika dan ahli pendidikan yakni Prof. Hans Freudenthal (Abdussakir, 2010). Freudenthal menyatakan bahwa matematika adalah “human activity” dan dari ide inilah RME dikembangkan. Pada pembelajaran RME, Freudenthal berpendapat bahwa matematika harus dikaitkan  dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari.  Realistik dalam hal ini tidak harus mengacu pada hal-hal realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa.
Pada iceberg approach (pendekatan gunung es matematika), di bagian paling dasar diisi oleh objek-objek matematika yang ada di kehidupan nyata sehari-hari, di atasnya ada model matematikanya, kemudian di atasnya lagi ialah hubungan angka dan yang paling atas notasi formalnya. Jika di Indonesia, pendekatan gunung es matematika ini dianalogikan menjadi gunung berapi.
Siswa diibaratkan berada pada dasar gunung. Artinya alangkah lebih baik mengajarkan matematika kepada siswa dengan melibatkan objek-objek yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Jika seorang guru langsung mengajarkan matematika kepada siswa dengan memberikan notasi-notasi matematika (objek matematika yang abstrak) maka sama saja pengajar tersebut teleh mengeluarkan larva-larva gunung berapi sehingga akan menganggu kehidupan (cara berfikir dan belajar) siswa itu sendiri. Ajarjkan matematika kepada siswa melalui benda-benda konkret yang ada di sekitarnya kemudian dengan perlahan ajak siswa ke puncak gunung (matematika formal) bertahap melalui pemodelan matematika dan pemodelan formal. Tentu perlu usaha yang tekun untuk mewujudkan hal ini.
Matematika akan menjadi bencana bagi siswa jika siswa tidak siap dalam menghadapinya. Sebaliknya matematika akan menjadi berkah bagi siswa yang siap dalam menghadapinya. Sehingga, seorang guru seyogyanya membantu siswa untuk menjadi seseorang yang siap dalam menerima matematika sehingga siswa akan merasa bahwa matematika akan menjadi berkah bagi dirinya, bukan bencana.
Bantulah juga siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya. Bukan hanya mentransfer pengetahuan kepada siswa. Siswa yang mengkonstruk pengetahuannya diprediksikan berkembang dengan baik dan dapat menjadi sumber kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar