17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017
Perkuliahan filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit pada
hari selasa tanggal 28 November 2017 diisi dengan penyajian hasil presentasi
beliau di Chiang Mai tentang The Iceberg Approach of Learning Fractions in
Junior High School: Teachers’ Reflection Prior to Lesson Study Activities.
Hermeneutika merupakan sebuah proses untuk
menafsirkan, menginterpretasikan, dan memahami sesuatu. Di dalam hermeneutika
terdapat dua unsur dasar yaitu lurus dan melingkar. Lurus karena kita tidak akan bisa mengulangi
hal yang sama. Melingkar karena kita melakukan interaksi. Hermeneutika ini juga
dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menerjemahkan hal apapun. Oleh karena
itu, hermeneutika dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan. Melalui
hermeneutika dalam proses pembelajaran matematika, diharapkan siswa dapat memahami
matematika dan mengeksplor potensi kecerdasan matematikanya lebih mendalam
sehingga siswa dapat mandiri dalam menyelesaikan suatu permasalahan matematika.
Iceberg
Approach merupakan
gambaran gunung es matematika realistik sebagai salah satu pendekatan untuk
berhermeneutika dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika
realistik (RME) tidak lepas dari sosok seorang ahli matematika dan ahli
pendidikan yakni Prof. Hans Freudenthal (Abdussakir, 2010). Freudenthal
menyatakan bahwa matematika adalah “human
activity” dan dari ide inilah RME dikembangkan. Pada pembelajaran RME,
Freudenthal berpendapat bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan
aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan siswa dan relevan
dengan kehidupan nyata sehari-hari.
Realistik dalam hal ini tidak harus mengacu pada hal-hal realitas tetapi
pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa.
Pada iceberg approach
(pendekatan gunung es matematika), di bagian paling dasar diisi oleh
objek-objek matematika yang ada di kehidupan nyata sehari-hari, di atasnya ada
model matematikanya, kemudian di atasnya lagi ialah hubungan angka dan yang
paling atas notasi formalnya. Jika di Indonesia, pendekatan gunung es
matematika ini dianalogikan menjadi gunung berapi.
Siswa diibaratkan berada pada dasar gunung. Artinya
alangkah lebih baik mengajarkan matematika kepada siswa dengan melibatkan
objek-objek yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Jika seorang guru langsung
mengajarkan matematika kepada siswa dengan memberikan notasi-notasi matematika
(objek matematika yang abstrak) maka sama saja pengajar tersebut teleh
mengeluarkan larva-larva gunung berapi sehingga akan menganggu kehidupan (cara
berfikir dan belajar) siswa itu sendiri. Ajarjkan matematika kepada siswa
melalui benda-benda konkret yang ada di sekitarnya kemudian dengan perlahan
ajak siswa ke puncak gunung (matematika formal) bertahap melalui pemodelan
matematika dan pemodelan formal. Tentu perlu usaha yang tekun untuk mewujudkan
hal ini.
Matematika akan menjadi bencana bagi siswa jika siswa
tidak siap dalam menghadapinya. Sebaliknya matematika akan menjadi berkah bagi
siswa yang siap dalam menghadapinya. Sehingga, seorang guru seyogyanya membantu
siswa untuk menjadi seseorang yang siap dalam menerima matematika sehingga
siswa akan merasa bahwa matematika akan menjadi berkah bagi dirinya, bukan
bencana.
Bantulah juga siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya.
Bukan hanya mentransfer pengetahuan kepada siswa. Siswa yang mengkonstruk
pengetahuannya diprediksikan berkembang dengan baik dan dapat menjadi sumber
kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar