Gina
Sasmita Pratama
17709251003
S2
Pendidikan Matematika A 2017
Selasa tanggal 10
Oktober 2017 merupakan pertemuan keempat saya dan teman-teman-teman S2
Pendidikan Matematika A 2017 dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A dalam
mata kuliah Filsafat Ilmu. Pertemuan pada hari ini berbeda dari pertemuan
biasanya. Jika pada pertemuan biasanya kami duduk melingkar untuk saling
berdiskusi, maka pada hari ini kami sebagai audience
dan Bapak sebagai keynote speakernya.
Gambar di atas menggambarkan apa yang Prof. Marsigit jelaskan kepada kami dalam
pertemuan keempat mata kuliah filsafat ilmu ini.
Pada mulanya, Bapak
menggambarkan sebuah garis yang bergelombang yang memiliki awal dan akhir. Namun
ketika di akhir, garis tersebut menurun yang dianalogikan sebagai lautan
seperti gambar di bawah ini :
Jadi menurut
Bapak kita dianalogikan sebagai ikan-ikan yang ada di lautan yang sedang berjuang
kesana-kemari untuk mencari air yang jernih karena dalam perjalanannya air yang
sudah sampai di lautan tersebut sudah tercemar oleh pengaruh-pengaruh dalam perkembangan
sejarah.
Sekarang ini, sebenar-benar hidup
adalah bahasa karena filsafatnya filsafat bahasa. Sebenar-benarnya diri kita
adalah bahasa kita, tulisan kita, dan kata-kata kita. Sebenar-benar pikiran pun
adalah bahasa, wujudnya dalam karya ilmiah seperti thesis dan disertasi.
Pikiran itu bersifat monoisme
(tunggal) jika berada di dalam pikiran yang dinamakan kuasa Tuhan. Pikiran
bersifat pluralisme (banyak) jika di dunia nyata. Jadi misalnya, saya yang di
dalam pikiran itu hanya satu yaitu Gina. Tetapi jika di dunia nyata, saya itu
banyak, yakni Gina yang sedang belajar, Gina yang sedang duduk, Gina yang
sedang makan, dan tak terhingga banyaknya. Filsafat itu hanya ada dua perkara
saja, yang pertama yang ada di dalam pikiran itu bagaimana bisa dijelaskan dan
yang kedua yang ada di luar pikiran itu bagaimana kita mampu memahaminya. Dari
awal hingga akhir zaman sekarang ini, tidak ada yang dapat menggapai hal
tersebut. Sehingga Socrates mengatakan bahwa sebenar-benar diri kita tidak
mengetahui apapun.
Suatu objek jika di dalam pikiran
bersifat identitas sedangkan ketika di dunia nyata bersifat kontradiksi.
Identitas maksudnya A = A dan kontradiksi maksudnya A ≠ A. A ≠ A maksudnya sebenar-benar
diriku (apalagi orang lain) tidak mampu menunjuk siapa diriku, sebab ketika aku
belum selesai menunjuk, aku sudah ganti dari tadi menjadi nanti karena terikat
oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu ada di dalam kenyataan, tetapi dalam
idealnya tidak ada ruang dan waktu. Sehingga Tuhan tidak terikat ruang dan
waktu. Ditekankan lagi bahwa sebenar-benarnya diriku bersifat kontradiksi jika
dalam kenyataan (2 ≠ 2). Tetapi sebenar-benarnya diriku dalam pikiran bersifat
identitas (2 = 2). 2 ≠ 2 maksudnya peduli ruang dan waktu. Dua kiri berbeda
dengan dua kanan, misalkan 2 kiri kurus sedangkan 2 kanan gendut. Dua sama
dengan dua hanya ada di dalam pikiran, makanya matematika bersifat abstrak.
Sehingga matematika di kenyataan harus bersifat konkret (nyata) yang
penerapannya dalam mengajarkan matematika kepada anak SD. Jangan sampai ketika
menerangkan matematika kepada anak SD kita menggunakan hal-hal yang abstrak, karena
secerdas-cerdas kita adalah mampu menyesuaikan sesuatu dengan ruang dan
waktunya.
Ada yang namanya absolutisme
(wajib). Sebenar-benar wajib manusia adalah wajib relative, kecuali kita
merujuk pada wajib absolutisme dari ayat-ayat-Nya. Ini yang namanya realisme.
Dalam filsafat, di dalam pikiran ada platonisme sedangkan di kenyataan ada Aristotel.
Sebenar-benar ilmu menurut Plato adalah pikiran. Menurut Aristotel
sebenar-benar ilmu adalah kenyataan. Ilmu menurut Plato ini untuk orang dewasa
ke atas sedangkan ilmu menurut Aristotel untuk anak-anak, meskipun orang dewasa
juga mengalami kenyataan.
Logika yang ada di dalam pikiran bersifat
analitik sedangkan kenyataan bersifat sintetik. Oleh karena itu orang
matematika berpegang pada jargon yang
penting logis. Matematika murni yang penuh definisi ada di dalam pikiran
sedangkan hidup 90% penuh dengan intuisi. Bahaya jika mengajar matematika pada
anak menggunakan definisi. Ciri dari intuisi kapan datangnya lupa, yang penting
ngerti. Konsep bilangan 1 bagi anak kecil adalah intuisi. Sehingga ajarkan
bilangan kepada anak kecil berdasarkan kehidupan nyata. Analitik tidak perlu
melihat kenyataannya, yang penting logis. Sehingga metamatika murni tidek perlu
kenyataan.Sehingga menurut Immanuel Kant itu belum berilmu. Sebenar-benar ilmu
menurut Immanuel Kant bersifat sintetik apriori. Aposteriori sejalan dengan
sintetik, yakni paham setelah melihat atau mengalami. Sedangkan apriori sejalan
dengan logika, yakni walaupun belum ada kenyataanya bisa memikirkan. Aposteriori
dunianya anak kecil, di bawah anak kecil dunia binatang. Dunia anak kecil
adalah dunia aposteriori. Matematikanya juga matematika aposteriori.
Matematikanya konkret. Inilah sebab Immanuel Kant memilih sintetik apriori, ia
menggabungkan antara matematika apriori dan matematika sintetik.
Gambar di atas juga memperlihatkan
ada yang namanya dearah di atas garis juga daerah dibawah garis. Daerah di atas
garis kita sebut sebagai langit dan daerah di bawah garis disebut dunia. Di
atas yakni langit ialah sebenar-benar prinsip. Dibawah garis adalah buminya
atau dunianya, inilah sebenar-benarnya bayangan. Jadi anak-anak itu bayangan
orang tua, jika kita menyalahkan anak-anak, maka sebenar-benarnya itu kembali
lagi kepada orang tuanya. Sebenar-benar prinsip adalah monoisme, absolut, tidak
bisa diganggu gugat. Apa yang kita kerjakan merupakan bayang-bayang dari Tuhan.
Prinsip hanya ada dua yaitu identitas dan kontradiksi. Identitas adalah pikiran
atau kuasa Tuhan dan kontradiksi adalah kenyataan. Prinsip itu konsisten,
misalnya kitab suci tidak bisa diubah-ubah.Tiadalah ilmu bagi anak kecil selain
aktivitas. Sebenar-benar matematika untuk anak-anak adalah kegiatan.
Setelah tahun 1671, filsafat sudah
masuk zaman modern. Sedangkan sekarang, sudah masuk zaman post modern atau
disebut sebagai power now atau zaman kontenporer. Filsafat kontenporer adalah filsafat bahasa. Kemudian
metafisik, mulai belajar dibalik pikiran orang itu apa yang terjadi. Kemudian
saintifisme dan muncul fenomena Comte. Menurut Comte, Agama itu tidak logis dan tidak berguna jika ingin membangun dunia
(saat itu Islam belum muncul). Sehingga Comte meletakan saintific pada urutan
pertama, kemudian filsafat, dan terakhir agama. Jadi sebenarnya, metode
saintifik itu dikemukakan oleh August Comte yang dia meminggirkan agama.
Demikian sampai sekarang mucul dunia power now kontenporer yaitu mulai dari
bawah archaic, tribal, tradisional, feodal, modern, post modern. Agama terletak
di tradisional. Sehingga Handphone
sekarang tidak ada unsur agamanya karena letak agama paling tinggi hanya ada di
tradisional. Dan sedihnya, sebenar-benar fenomena Comte sekarang ada di dalam
diri kita masing-masing. Oleh karena itu, kita harus tetap memegang teguh
prinsip agama kita walaupun kebudayaan asing silih berganti masuk mempengaruhi.
Memegang teguh agama akan membuat kita tidak selamanya terjebak dalam air laut
yang keruh sehingga suatu saat nanti kita dapat keluar dan menemukan jernihnya
kehidupan. Inilah time line kehidupan ditinjau dari filsafat yang kami dapatkan
dari kuliah bersama Prof. Marsigit. Jika ada yang kurang saya mohon maaf.
Semoga tulisan ini dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca sekalian.
Terimakasih.