Minggu, 15 Oktober 2017

Refleksi Pertemuan I Filsafat Ilmu : Mengenal Filsafat Bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A.


Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017
 
Pada hari itu, Selasa 5 September 2017 pukul 15.30, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan sosok Prof. Dr. Marsigit, M.A di ruang I.2.6.01.06 Gedung Sangat Baru Pasca Sarjana UNY. Saya sedikit terlambat bersama dua teman saya yang lain karena sholat ashar terlebih dahulu, tetapi dengan hangatnya Prof. Marsigit mempersilahkan kami untuk duduk bergabung bersama teman-teman yang lain. Ini adalah pertemuan pertama kuliah Filsafat Ilmu untuk kami mahasiswa baru S2 program studi Pendidikan Matematika angkatan 2017.
Pertemuan pertama dibuka dengan perkenalan, dimana Bapak menanyakan nama dan asal universitas S1 kami satu per satu, kemudian dilanjutkan dengan Bapak memperkenalkan diri. Pada saat itu, Bapak ingin menyebutkan namanya. Akan tetapi, Bapak memulai dengan menyebutkan bahwa nama itu ada yang namanya nama muda, nama tua, nama profesional, nama resmi, dan nama panggilan (nick name). Kemudian Bapak menyelipkan pesan dimana dia mengatakan bahwa spiritual itu bisa menjadi hal yang keren. Kata Bapak, Nabi Muhammad adalah orang yang paling keren dalam bidang spiritual di dunia. Bapak menggunakan istilah awam untuk merujuk spiritual. Menurut Bapak hal ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar bagaimana orang berfilsafat berkomunikasi. Filsafat menggunakan bahasa awam untuk menjangkau area-area yang transedenden disana (spiritual) karena filsafat itu ikhtiar fikiran manusia saja, belum sampai pada pedoman, dalil-dalil alquran dan hadist, walaupun sudah mempunyai keterampilan tersendiri.
Kembali kepada perkenalan Prof. Dr. Marsigit, M.A. Pada saat itu Bapak menceritakan kepada kami bahwa ia mempunyai nama kontenporer dan nama klasik. Nama Bapak yang klasik adalah Marsigit. Mar itu artinya tersamar. Tersamar itu ilmu. Semua ilmu itu tersamar atau tertutup bayang-bayang, tinggal kita mampu menggalinya atau tidak. Sigit itu tampan. Sehingga, arti dari Marsigit ialah tersamar dan tampan. Jadi, Marsigit ialah orang tampan yang selalu mencari ilmu. Dalam perwayangan, tokoh itu bernama Arjuna. Sedangkan nama Bapak yang kontenporer juga Marsigit tetapi dengan arti yang berbeda. Mars ialah planet, see artinya melihat, dan gate artinya pintu gerbang. Jadi arti dari Marsigit secara kontenporer ialah pintu gerbang untuk melihat planet mars. Percaya atau tidak  percaya terhadap apa yang Bapak sampaikan barusan menurut Bapak ialah nomor sekian, yang penting mendengar. Mencari ilmu juga harus gaya dan semangat (power dari diri). Baiklah, Menurut Bapak perkenalan nama Bapak yang kontenporer dan klasik di atas hanya agar pertemuan pertama kita saat perkenalan ini mempunyai kesan. Kemudian setelah itu, Bapak memperkenalkan riwayat pendidikannya hingga mendapat gelar Profesor dan juga tentang keluarganya.
Kemdudian Bapak melanjutkan penjelasannya. Menurut Bapak, kami tidak boleh berbangga diri walaupun masih muda. Waktu itu berjalan dinikmati, jangan disia-siakan. Filsafat itu bagaimana caranya kamu bingung. Bingung di dalam fikiran itu tandanya sedang membangun ilmu. Tetapi jangan sekali-kali bingung di dalam hatimu. Sehingga orang yang bingung di dalam fikiran tetapi tidak bingung di hati, itu artinya orang yang profesional, sudah bisa ia memilah-milah. Orang yang bingung di fikiran dan bingung di hati, itu ciri belum profesional. Jiwanya belum matang. Dalam pelajaran bapak, berfikir saja. Bingung tidak apa-apa. Asal jangan ikut dibingungkan hatimu.
Filsafat mengalirkan gagasan dan ide-ide. Segala sesuatu pekerjaan dan kehidupan mempunyai landasan dan arah, termasuk filsafat. Landasan filsafat ialah paradigma. Paradigma filsafat adalah membangun, membangun apapun yang baik-baik. Membangun dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya.. Maka yang namanya membangun itu membangun dari langit sampai ke bumi, dasar bumi, dasar samudera, demikian seterusnya. Hal itu isomorfis dengan dari spiritual turun ke pengetahuan manusia. Kemudian dari pengetahuan manusia turun kepada ilmu-ilmu bidang dan ilmu cabang. Kemudia turun lagi kepada formalitas. Formalitas turun menjadi sebuah aturan dalam bentuk aturan undang-undang. Kemudian turun lagi ke pergaulan manusia. Dari interaksi antar manusia turun lagi kepada dunia binatang dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian turun kepada bebatuan. Kita bisa membangun langit, membangun bumi, membangun cinta, membangun persahabatan.
Pesan dari Bapak, jika merasa bingung dalam proses belajar filsafat, tetapkanlah hati sebagai komandannya. Jadi walaupun mengikuti perkuliahan filsafat ilmu dalam keadaan kacau fikiran, maka hati tetap dalam keadaan berdoa, meminta ampun, dan meminta petunjuk. Doa yang paling tinggi ialah memanggil nama Allah (dzikir). Semilyar memanggil nama Allah, belum tentu satu di dengarkan dan berhasil. Tetapi, walaupun satu kali memanggil jika dilakukan dengan keikhlasan, tentu akan ada pahalanya dan diperhatikan oleh Allah. Ada ikhlas hati dan ikhlas fikir. Ikhlas fikir itu paham atau mengerti. Ikhlas di dalam hati itu ciri-cirinya senang, tawakal, istiqomah, tumaninah, ikhlas dalam fikir artinya mengerti apa yang dibaca. Sehingga pesan Bapak, terapkanlah ikhlas hati dan fikiran ini dalam membaca blog “Power Mathematics” agar kita dapat memahami dengan baik bacaan yang kita baca. Bapak menjelaskan bahwa tiadalah ilmu kalau tidak ada pertanyaan, pertanyaan itu menandakan kacaunya fikiran. Ilmu yang dipertanyakan ini merupakan ilmu dunia.
Sebelum menutup perkuliahan, Bapak mempersilahkan kepada kami untuk bertanya. Berikut ini beberapa pertanyaan yang ada dan jawaban dari Bapak Marsigit.
a.)    Bagaimana menyalaraskan antara relalitas di lapangan sesuai dengan apa yang kita fikiran?
Jawaban dari Bapak : Jalani, fikirkan, dan doakan. Jalanilah yang engkau fikirkan, fikirkanlah yang engkau jalani, dua-duanya dikemas dan dikerangkai dengan doa.
b.)    Bagaimana mengatasi kebingungan dalam belajar filsafat?
Jawaban dari Bapak : Itu sebenarnya bukan arti sebenarnya, itu hanya kalimat semantik.
Pesan penutup dari Bapak yakni, selesai kuliah kamu akan menjadi tahu diri, tidak sembarang mendefinisikan, lebih hati-hati, tadinya merasa bisa menjadi merasa tidak bisa. Dalam filsafat yang merasa tidak bisa itu derajatnya yang paling tinggi. Selesai kuliah, kita akan merasa sebenar-benarnya diri kita tidak mengetahui apapun (secrates). Kemudian kata Bapak, kuliah jangan hanya mendengarkan pengetahuan dari Bapak saja, tetapi juga membaca bacaan dari para filsuf. Karena sebenar-benarnya filsafat ialah membaca. Filsafat adalah penjelasanmu. Filsafat itu berfikir. Sebenar-benar orang yang anti filsafat sebenarnya adalah filsafat. Karena jika ia tidak filsafat, maka tidak akan mungkin bisa anti filsafat. Filsafat juga olah fikir. Tetapi hidup itu tidak hanya oleh fikir tetapi olah hati, jika olah fikir saja akan berbahaya. Spiritual itu olah fikir dan olah hati. Oleh karena itu, peganglah dengan kuat spiritual di dalam diri. Inilah refleksi pertemuan pertama kuliah filsafat ilmu kami. Dalam pertemuan pertama inilah saya mengenal filsafat pertama kali bersama bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar