Gina
Sasmita Pratama
17709251003
S2
Pendidikan Matematika A 2017
Hari ini, masih di hari
yang sama yaitu Selasa, tetapi dengan tanggal yang berbeda yakni tanggal 3 Oktober 2017 merupakan
pertemuan ketiga saya dan teman-teman-teman S2 Pendidikan Matematika A 2017
dengan Prof. Dr.
Marsigit, M.A dalam mata kuliah Filsafat Ilmu. Pada hari itu,
seperti biasa Bapak membuka perkuliahan dengan mengajak mahasiswanya untuk berdo’a.
Hari itu, perkuliahan masih diawali dengan tes jawab singkat.
Tes jawab singkat kali
ini tentu menambah pengetahuan saya lagi mengenai filsafat. Pada tes jawab
singkat hari ini, saya mendapatkan beberapa kata penting dalam filsafat. Kata-kata
tersebut seperti disharmoni (ketidakseimbangan), simbolism (tanda atau
kode-kode), mitos (tidak berpikir), skeptism (ragu-ragu), determinism (perintah
agar sesuai dengan yang kita lakukan), subjectivism (sesuai pendapat pribadi),
objectivisme (berdasarkan kenyataan), teleologi (perkiraan), utilitarian (kegunaan),
relativisme (sesuai dengan kondisi), absolutivisme (harus), idealism (baik),
foundalism (janji), intuisionism (lupa), reduksionism (fokus), monoism (satu),
nihilism (tidak ada), hermeunetika (diulang), infinitigres (dan seterusnya),
authoritarian (perintah), kapitalism (senang pada kekayaan), analitik (bisa
dinalar), aposteriori (baru memahami jika sudah melihat langsung).
Setelah itu, Bapak
menjawab beberapa pertanyaan dari kami. Berikut ini pertanyaan dan jawaban
tersebut :
a.) Apa
itu bahagia ?
Jawaban dari Bapak : Bahagia adalah sesuai (cocok)
ruang dan waktunya. Bahagia juga sesuai dengan qodratnya. Misalnya, saatnya
menikah ya menikah.
b.) Kapan
seseorang dikatakan menguasai ilmu?
Jawaban dari Bapak :
Menguasai ilmu menggunakan ilmu. Misalnya, ada warna Handphone berwarna hitam, sebenarnya warna Handphone itu selain hitam. Warna itu adalah yang kita pikirkan.
Sedangkan yang kita pikirkan adalah apa yang kita lihat. Yang kita lihat, itu
beda dengan apa yang dimiliki oleh Handphone
ini. Yang dimiliki oleh Handphone ini
terserap di dalam Handphone. Jadi Handphone ini menyerap semua warna
selain hitam. Sehingga warna hitamlah yang dipantulkan ke mata kita, maka kita
mikirnya Handphone ini berwarna
hitam. Warna ini merupakan bagian dari metafisik. Jadi, seseorang dikatakan
berilmu jika apa yang ia katakan adalah benar.
c.) Mengapa
orang hidup ada yang rajin dan ada yang malas ?
Jawaban dari Bapak :
Sebenar-benarnya hidup adalah rajin dalam kemalasan dan malas dalam kerajinan.
Seseorang bisa malas dan bisa rajin, tetapi masing-masing ada waktunya. Bahaya
jika setiap saat rajin, misalnya rajin mengambil milik orang. Jadi perlu
masanya kita menjadi malas. Sehingga, malas itu bisa berguna dalam ruang dan
waktu tertentu. Jika dalam spiritual malas itu godaan syeitan.
d.) Bagaimana
cara agar orang mengikuti pikiran kita?
Jawaban dari Bapak :
Apa harus seperti itu? Jika semua orang mengikuti pikiran kita, maka kita tidak
akan bisa bergerak. Jadi yang benar, janganlah orang-orang mengikuti kita,
karena jika orang-orang tersebut mengikuti kita, maka orang tersebut akan
menjadi bayang-bayangnya kita. Jika ada orang-orang yang menjadi bayang-bayang
kita, maka stres lah kita. Sehingga kita tidak mampu berdiri, bergerak, dan
memiliki jati diri.
e.) Jika
Bapak mempunyai kapastias untuk mengubah dunia, apa yang ingin Bapak ubah?
Jawaban dari Bapak : Bapak
menekankan bahwa ia tidak mempunyai kapastias untuk mengubah dunia. Tetapi visi
misi Bapak adalah supaya dunia mampu berpikir. Masing-masing hidup dan mati
sesuai dunianya. Dalam filsafat, jika orang-orang tidak berpikir, maka matilah
dia. Misalnya, jika seorang filsuf melihat orang-orang yang sedang tawuran,
maka dia akan mengatakan bahwa “aku melihat sekumpulan orang-orang yang sedang
tidak berfikir, tetapi sedang berkelahi”. Jika ditingkatkan pada spiritual,
maka dia akan mengatakan bahwa “aku melihat sekumpulan mayat-mayat berjalan,
karena sebenar-benarnya mereka dalam keadaan tidak berdoa”. Jadi, masing-masing
hidup dan mati sesuai dunianya.
f.) Apa
itu usaha terbaik?
Jawaban dari Bapak :
Usaha terbaik itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Meliputi fisiknya sampai
spiritualnya. Setinggi-tinggi spiritual yaitu dalam keadaan diridhoi Allah SWT
yakni dalam keadaan berdo’a. Maka itulah usaha terbaik.
g.) Bagaimana
mengatasi keraguan ?
Jawaban dari Bapak :
Karena berfilsafat, maka keraguan dari level yang paling bawah sampai keraguan
level yang paling tinggi. Jika fisikmu sulit dikendalikan, maka itu artinya
ragu-ragu. Jika ragu-ragu di fikiran, maka itu sebenar-benarnya kita berfikir,
maka ragu lah dalam pikiranmu, tetapi jangan sekali-kali ragu terhadap hati,
karena ragu di hati pertanda ada godaan syeitan, maka mintalah ampunan dari
Allah SWT.
h.) Bagaimana
menyalaraskan lisan dan pikiran?
Jawaban dari Bapak :
Manusia itu tidak hanya satu koordinat, tidak hanya x dan y, manusia itu tak
terhingga banyaknya sumbunya. Sumbu mendengar, melihat, merasa, ekonomi,
hubungan dengan orang tua, dan seterusnya. Jadi jika menyelaraskan lisan dan
pikiran, itu hanya dua sumbu saja. Pendengaranmu, tindakanmu, hatimu, dan
seterusnya juga perlu diselaraskan. Caranya dengan hermenetika. Hermenetika
adalah mengalir sesuai dengan ruang dan waktunya menggunakan pola sumbu tiga
dimensi spiral, maju berkelanjutan, linear, dan siklik. Hidup kita itu linear
dan siklik. Linear karena kita tidak bisa mengulangi jam, hari, minggu, bulan,
dan tahun sekarang. Siklik artinya mudah-mudahan minggu depan masih ada hari
selasa. Linear dan siklik digabung akan menjadi spiral maju berkelanjutan.
i.) Kenapa
kita hidup?
Jawaban dari Bapak : Karena
kita berfikir. Jika dalam spiritual,
kita hidup karena kita beribadah.
Itulah pertemuan ketiga perkuliahan
filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit. Saya mengenal kata-kata yang penting
dalam ilmu filsafat dan mendengar
penjelasan Prof. Marsigit atas pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.
Mudah-mudahan untuk kedepannya, kemampuan berfilsafat saya lebih baik dari hari
ini. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar