Gina
Sasmita Pratama
17709251003
S2
Pendidikan Matematika A 2017
Selasa tanggal 26
September 2017 merupakan pertemuan kedua saya dan teman-teman-teman S2
Pendidikan Matematika A 2017 dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A dalam
mata kuliah Filsafat Ilmu. Pada hari itu, seperti biasa Bapak membuka
perkuliahan dengan mengajak mahasiswanya untuk berdo’a. Setelah berdo’a,
tiba-tiba Bapak meminta kami untuk mengeluarkan kertas selembar. Ternyata pada
hari itu diadakan tes jawab singkat.
Berikut
ini beberapa penjelasan yang saya dapatkan dari Bapak mengenai tes jawab
singkat yang sangat berguna bagi saya. Apa itu menanyakan tentang hakikat.
Filsafat itu ada tiga pilar, hakikat, metode, dan manfaat. Jika di
Indonesiakan, tiga pilar filsafat adalah makna, metode, dan manfaat. Bahasa
formalnya antology, epistimologi, dan axiology.
Jika kita mampu berpikir seperti ini, maka sebenarnya kita sudah naik
dimensinya. Karena jika kita belajar filsafat, maka dimensi kita sudah naik dan
menjadi orang-orang khusus, bukan umum lagi. Tetapi jangan sampai salah, kita
harus bisa menempatkan kapan saat kita menggunakan filsafat. Sebenar-benar
salah ialah tidak tepat ruang dan waktunya.
Siapa
kita itu adalah potensi. Jika dinaikan sedikit pada spiritual, maka siapa kita
adalah ciptaan Tuhan. Semua ciptaan Tuhan itu adalah potensi dalam arti
filsafat. Potensi itu bisa sembarang, bisa potensi untuk menjadi baik atau
sebaliknya potensi untuk menjadi buruk. Malam itu adalah potensi untuk siang
dan siang itu adalah potensi untuk malam.
Mengapa
itu adalah pertanyaan. Pertanyaan itu adalah ilmu. Tiadalah ilmu tanpa
pertanyaan.
Darimana
kita? Jadi potensi itu ada dua, ada potensi takdir dan potensi ikhtiar. Batu
itu mempunyai dua potensi yakni tercipta ditakdirkan dan berubah (berubah karena cuaca, tendangan binatang,
campur tangan manusia misalnya batu menjadi semen). Potensi ikhtiar ialah
potensi berubah. Ikhtiar berubah bukan hanya karena manusia tetapi juga karena
sistem alam semesta. Jadi, kita itu sungguh dari yang terpilih, dan yang
memilih kita adalah Tuhan. Kemudian, mau kemana kita? Kita akan memilih.
Memilih apapun.
Nama
kita adalah dunia atau icon. Misalnya batu itu dunia batu.
Kemudian
kita selalu bersama pikiran kita kapanpun dan dimanapun kita berada.
Yang
dibelakang kita adalah epoket. Epoket itu, ketika kita mempunyai ayah, ibu, dan
adek, tetapi sekarang saya sedang kuliah filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit,
sehingga ayah, ibu, dan adek saya, saya masukan kedalam epoket. Contohnya lagi,
saya berasal dari Sumatra dan sekarang sedang berada di Jogja, maka saya harus
menjunjung tinggi budaya yang ada di Jogja. Tetapi jika saya tetap bersikeras
membawa tradisi saya dari Sumatera ke Jogja, itu artinya saya tidak mampu
memanfaatkan epoket saya. Jika dalam matematika, ketika kita sedang belajar
balok misalnya, dan ruangan tempat kita belajar ternyata berbentuk balok, maka
jam, hordeng, dan hiasan dinding lainnya kita masukan ke dalam epoket. Kita
hanya berfokusi pada ruangan yang berbentuk baloknya saja. Jika tidak ada
epoket, maka kita tidak bisa belajar dan tidak bisa apa-apa.
Didepan
kita adalah fenomena. Di atas kita adalah transenden (para dewa). Di bawah kita
adalah bayang-bayang. Bayang-bayang selalu mengikuti kita dimanapun kita
berada. Bayang-bayang itu adalah kenyataannya sedangkan transenden adalah
idealnya. Misalnya, resep makanan adalah transendennya sedangkan makanan yang
jadi itu adalah bayang-bayangnya.
Orang
tuamu adalah jiwamu. Jika ketika kita menyebutkan orang tua kita itu besar
badannya, maka kita hanya memandang fisiknya saja. Jika kita menyebutkan bahwa
orang tua kita adalah Ketua RT, maka berarti kuta ahnya memandang jabatannya
saja. Jadi ketika kita menyebutkan bahwa orang tua kita adalah jiwa, maka kita
menghargai jiwanya.
Tujuan
kita adalah saksi. Setingi-tinggi tujuan berfilsafat ialah menjadi saksi.
Misalnya ketika ada seminar Nasional FMIPA, dan kita tidak mengetahui apapun,
artinya kita telah gagal menjadi saksi.
Kita
seyogyanya sedang mengada. Mengada disebut juga ikhtiar. Maka sebenar-benarnya
mengada adalah perubahan. Perubahan apa saja, misal berubah menjadi keras atau
sebaliknya. Sebenar-benar hidup adalah mengada. Hasil dari mengada adalah
pengada. Misalnya, ketika di Tes berarti kita sedang mengada, sedangkan hasil
nilainya disebut pengada. Sebenar-benarnya belajarpun adalah mengada dari yang
mungkin ada menjadi ada. Yang mungkin ada dan yang ada merupakan objek
filsafat. Yang ada itu ada dipikiran atau jika ditingkatkan yang ada di dalam
hati. Yang mungkin ada itu yang belum ada di dalam pikiran. Yang tidak kita
mengerti itu disebut yang mungkin ada. Nanti setelah kita mengerti, maka itu
menjadi yang ada. Ciri-ciri ketika sesuatu sudah ada di pikiran ialah, ketika
kita mampu menyebutkan satu saja sifat dari sekian banyak sifat sesuatu
tersebut. Tetapi yang ada di dalam pikiran kita itu hanya sedikit sekali.
Pilihan
kita disebut sebagai abstraksi. Maksudnya adalah ketika belajar bangun ruang
kubus pada pelajaran matematika, maka kita hanya mengambil sifat-sifat yang
ingin kita pelajari saja. Mislanya sifat rusuk atau sisinya. Sifat-sifat yang
lain seperti warna, berat, dan hiasannya, itu tidak kita ambil (pilih). Itulah
yang disebut dengan abstraksi.
Kita
sedang berada di dalam perbatasan. Sebenar-benar hidup ialah ketika kita berada
dalam perbatasan. Di dalam perbatasan itulah tedapat ilmu. Batas antara jelas
dan tidak jelas. Batas antara nyaman dan tidak nyaman. Jika kita selalu berada
dalam keadaan nyaman, maka kita tidak akan belajar dan maju. Misalnya ketika
kita tidur dan merasa tidak nyaman, maka kita tidak akan melanjutkan tidur
melainkan bangun dan belajar.
Apa
yang kita miliki adalah kekasih kita. Supaya jadi kekasih kita, maka jadikanlah
ia milik kita.
Apa
yang kita benci adalah mitos. Mitos itu di luar batas (ditengah-tengah atau
nyaman). Hidup nyaman adalah mitos. Sebenar-benar nyaman adalah perjalanan
ketidaknyamanan. Nyaman dalam suatu titik itulah dinamakan mitos, maka
sebenarnya ia tidak merasa nyaman. Mitos
itu juga diam atau berhenti berfikir (jelas). Di dalam filsafat, semua
kejelasan itu adalah mitos. Sebab, jika kita merasa jelas berarti kita berhenti
berpikir.
Rumah
kita adalah bahasa. Sebenar-benar dirimu adalah bahasamu dan kata-katamumu.
Sehingga hati-hatilah dalam berbicara. Siapa diri kita, bagaimana karakter
kita, itu sebenarnya bergantung pada kata-kata yang keluar dari diri kita.
Pekerjaan
kita adalah membaca. Sebenar-benar filsafat adalah membaca. Tiadalah filsafat
jika tanpa membaca. Sehingga bersyukurlah kita diberi fasilitas oleh
Prof.Marsigit untuk membaca blognya. Bacaan kita adalah yang ada dan mungkin
ada. Laboratoriumnya filsafat adalah alam semesta ini (semua ciptaan Tuhan)
atau yang ada dan mungkin ada. Yang ada dan mungkin ada setiap orang itu
berbeda-beda. Maka apa yang Bapak Marsigit ajarkan kepada kami adalah yang ada
pada Prof.Marsigit.
Nyanyian
kita estetika. Nyanyian itu dianggap ssesuatu yang indah, itulah estetika.
Dari
tes jawab singkat tersebut, tidak ada satupun jawaban saya yang benar. Menurut
saya, ini disebabkan karena kemampuan berfilsafat saya yang belum baik dan juga
menandakan bahwa sebenar-benarnya saya tidaklah mengetahui apapun. Harapannya,
semoga kedepannya kemampuan berfilsafat saya meningka. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar