Minggu, 15 Oktober 2017

Refleksi Pertemuan II Filsafat Ilmu : Tes Jawab Singkat I Menyadarkanku Bahwa Sebenar-Benarnya Diriku Tidak Mengetahui Apapun



Gina Sasmita Pratama
17709251003
S2 Pendidikan Matematika A 2017

Selasa tanggal 26 September 2017 merupakan pertemuan kedua saya dan teman-teman-teman S2 Pendidikan Matematika A 2017 dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A dalam mata kuliah Filsafat Ilmu. Pada hari itu, seperti biasa Bapak membuka perkuliahan dengan mengajak mahasiswanya untuk berdo’a. Setelah berdo’a, tiba-tiba Bapak meminta kami untuk mengeluarkan kertas selembar. Ternyata pada hari itu diadakan tes jawab singkat.
Berikut ini beberapa penjelasan yang saya dapatkan dari Bapak mengenai tes jawab singkat yang sangat berguna bagi saya. Apa itu menanyakan tentang hakikat. Filsafat itu ada tiga pilar, hakikat, metode, dan manfaat. Jika di Indonesiakan, tiga pilar filsafat adalah makna, metode, dan manfaat. Bahasa formalnya antology, epistimologi, dan axiology.  Jika kita mampu berpikir seperti ini, maka sebenarnya kita sudah naik dimensinya. Karena jika kita belajar filsafat, maka dimensi kita sudah naik dan menjadi orang-orang khusus, bukan umum lagi. Tetapi jangan sampai salah, kita harus bisa menempatkan kapan saat kita menggunakan filsafat. Sebenar-benar salah ialah tidak tepat ruang dan waktunya.
Siapa kita itu adalah potensi. Jika dinaikan sedikit pada spiritual, maka siapa kita adalah ciptaan Tuhan. Semua ciptaan Tuhan itu adalah potensi dalam arti filsafat. Potensi itu bisa sembarang, bisa potensi untuk menjadi baik atau sebaliknya potensi untuk menjadi buruk. Malam itu adalah potensi untuk siang dan siang itu adalah potensi untuk malam.
Mengapa itu adalah pertanyaan. Pertanyaan itu adalah ilmu. Tiadalah ilmu tanpa pertanyaan.
Darimana kita? Jadi potensi itu ada dua, ada potensi takdir dan potensi ikhtiar. Batu itu mempunyai dua potensi yakni tercipta ditakdirkan dan berubah  (berubah karena cuaca, tendangan binatang, campur tangan manusia misalnya batu menjadi semen). Potensi ikhtiar ialah potensi berubah. Ikhtiar berubah bukan hanya karena manusia tetapi juga karena sistem alam semesta. Jadi, kita itu sungguh dari yang terpilih, dan yang memilih kita adalah Tuhan. Kemudian, mau kemana kita? Kita akan memilih. Memilih apapun.
Nama kita adalah dunia atau icon. Misalnya batu itu dunia batu.
Kemudian kita selalu bersama pikiran kita kapanpun dan dimanapun kita berada.
Yang dibelakang kita adalah epoket. Epoket itu, ketika kita mempunyai ayah, ibu, dan adek, tetapi sekarang saya sedang kuliah filsafat ilmu bersama Prof. Marsigit, sehingga ayah, ibu, dan adek saya, saya masukan kedalam epoket. Contohnya lagi, saya berasal dari Sumatra dan sekarang sedang berada di Jogja, maka saya harus menjunjung tinggi budaya yang ada di Jogja. Tetapi jika saya tetap bersikeras membawa tradisi saya dari Sumatera ke Jogja, itu artinya saya tidak mampu memanfaatkan epoket saya. Jika dalam matematika, ketika kita sedang belajar balok misalnya, dan ruangan tempat kita belajar ternyata berbentuk balok, maka jam, hordeng, dan hiasan dinding lainnya kita masukan ke dalam epoket. Kita hanya berfokusi pada ruangan yang berbentuk baloknya saja. Jika tidak ada epoket, maka kita tidak bisa belajar dan tidak bisa apa-apa.
Didepan kita adalah fenomena. Di atas kita adalah transenden (para dewa). Di bawah kita adalah bayang-bayang. Bayang-bayang selalu mengikuti kita dimanapun kita berada. Bayang-bayang itu adalah kenyataannya sedangkan transenden adalah idealnya. Misalnya, resep makanan adalah transendennya sedangkan makanan yang jadi itu adalah bayang-bayangnya.
Orang tuamu adalah jiwamu. Jika ketika kita menyebutkan orang tua kita itu besar badannya, maka kita hanya memandang fisiknya saja. Jika kita menyebutkan bahwa orang tua kita adalah Ketua RT, maka berarti kuta ahnya memandang jabatannya saja. Jadi ketika kita menyebutkan bahwa orang tua kita adalah jiwa, maka kita menghargai jiwanya.
Tujuan kita adalah saksi. Setingi-tinggi tujuan berfilsafat ialah menjadi saksi. Misalnya ketika ada seminar Nasional FMIPA, dan kita tidak mengetahui apapun, artinya kita telah gagal menjadi saksi.
Kita seyogyanya sedang mengada. Mengada disebut juga ikhtiar. Maka sebenar-benarnya mengada adalah perubahan. Perubahan apa saja, misal berubah menjadi keras atau sebaliknya. Sebenar-benar hidup adalah mengada. Hasil dari mengada adalah pengada. Misalnya, ketika di Tes berarti kita sedang mengada, sedangkan hasil nilainya disebut pengada. Sebenar-benarnya belajarpun adalah mengada dari yang mungkin ada menjadi ada. Yang mungkin ada dan yang ada merupakan objek filsafat. Yang ada itu ada dipikiran atau jika ditingkatkan yang ada di dalam hati. Yang mungkin ada itu yang belum ada di dalam pikiran. Yang tidak kita mengerti itu disebut yang mungkin ada. Nanti setelah kita mengerti, maka itu menjadi yang ada. Ciri-ciri ketika sesuatu sudah ada di pikiran ialah, ketika kita mampu menyebutkan satu saja sifat dari sekian banyak sifat sesuatu tersebut. Tetapi yang ada di dalam pikiran kita itu hanya sedikit sekali.
Pilihan kita disebut sebagai abstraksi. Maksudnya adalah ketika belajar bangun ruang kubus pada pelajaran matematika, maka kita hanya mengambil sifat-sifat yang ingin kita pelajari saja. Mislanya sifat rusuk atau sisinya. Sifat-sifat yang lain seperti warna, berat, dan hiasannya, itu tidak kita ambil (pilih). Itulah yang disebut dengan abstraksi.
Kita sedang berada di dalam perbatasan. Sebenar-benar hidup ialah ketika kita berada dalam perbatasan. Di dalam perbatasan itulah tedapat ilmu. Batas antara jelas dan tidak jelas. Batas antara nyaman dan tidak nyaman. Jika kita selalu berada dalam keadaan nyaman, maka kita tidak akan belajar dan maju. Misalnya ketika kita tidur dan merasa tidak nyaman, maka kita tidak akan melanjutkan tidur melainkan bangun dan belajar.
Apa yang kita miliki adalah kekasih kita. Supaya jadi kekasih kita, maka jadikanlah ia milik kita.
Apa yang kita benci adalah mitos. Mitos itu di luar batas (ditengah-tengah atau nyaman). Hidup nyaman adalah mitos. Sebenar-benar nyaman adalah perjalanan ketidaknyamanan. Nyaman dalam suatu titik itulah dinamakan mitos, maka sebenarnya ia tidak merasa  nyaman. Mitos itu juga diam atau berhenti berfikir (jelas). Di dalam filsafat, semua kejelasan itu adalah mitos. Sebab, jika kita merasa jelas berarti kita berhenti berpikir.
Rumah kita adalah bahasa. Sebenar-benar dirimu adalah bahasamu dan kata-katamumu. Sehingga hati-hatilah dalam berbicara. Siapa diri kita, bagaimana karakter kita, itu sebenarnya bergantung pada kata-kata yang keluar dari diri kita.
Pekerjaan kita adalah membaca. Sebenar-benar filsafat adalah membaca. Tiadalah filsafat jika tanpa membaca. Sehingga bersyukurlah kita diberi fasilitas oleh Prof.Marsigit untuk membaca blognya. Bacaan kita adalah yang ada dan mungkin ada. Laboratoriumnya filsafat adalah alam semesta ini (semua ciptaan Tuhan) atau yang ada dan mungkin ada. Yang ada dan mungkin ada setiap orang itu berbeda-beda. Maka apa yang Bapak Marsigit ajarkan kepada kami adalah yang ada pada Prof.Marsigit.
Nyanyian kita estetika. Nyanyian itu dianggap ssesuatu yang indah, itulah estetika.
Dari tes jawab singkat tersebut, tidak ada satupun jawaban saya yang benar. Menurut saya, ini disebabkan karena kemampuan berfilsafat saya yang belum baik dan juga menandakan bahwa sebenar-benarnya saya tidaklah mengetahui apapun. Harapannya, semoga kedepannya kemampuan berfilsafat saya meningka. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar